By : Jenri Revalino Manik – Mnj’25

Bumi sedang terluka. Hutan yang dahulu lebat perlahan berubah menjadi lahan kosong, sungai yang seharusnya menjadi sumber kehidupan dipenuhi sampah dan limbah, sementara udara semakin tercemar oleh aktivitas manusia. Luka-luka tersebut mungkin terlihat sebagai masalah lingkungan, tetapi sesungguhnya merupakan cerminan dari cara manusia memperlakukan tempat tinggalnya sendiri.

Luka Bumi, Suara Kita mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan alam, melainkan persoalan kita bersama. Ketika hutan ditebang secara berlebihan, banjir dan longsor dapat mengancam kehidupan masyarakat. Ketika sampah dibuang sembarangan, bukan hanya pemandangan yang rusak, tetapi juga kesehatan manusia dan ekosistem. Bumi memberikan tanda-tanda bahwa ia sedang berada dalam kondisi yang tidak baik, dan sudah seharusnya kita mendengarkan.

Namun, mendengarkan saja tidak cukup. Kita membutuhkan suara yang diwujudkan dalam tindakan. Suara itu dapat dimulai dari hal sederhana: mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membuang dan memilah sampah dengan benar, menghemat air dan energi, menanam pohon, serta berani mengingatkan ketika melihat tindakan yang merusak lingkungan.

Generasi muda juga memiliki peran penting. Suara kita dapat disampaikan melalui tulisan, karya seni, media sosial, kegiatan komunitas, maupun aksi nyata di lingkungan sekitar. Jangan sampai kepedulian terhadap bumi hanya menjadi sebuah slogan. Kepedulian harus berubah menjadi kebiasaan.

Pada akhirnya, bumi bukan sekadar tempat untuk kita tinggali, tetapi rumah yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya. Jika hari ini kita memilih diam ketika bumi terluka, maka kita turut membiarkan luka itu semakin dalam. Sebaliknya, ketika kita berani bersuara dan bertindak, sekecil apa pun kontribusinya, kita sedang ikut menjaga masa depan.

Luka bumi adalah peringatan, dan suara kita adalah harapan.

0 0 vote
Article Rating