Frugal Living Bukan Tentang Pelit, Tapi Tentang Kendali
By: Amelia Dona Malau (Mnj’24)
Memasuki tahun 2026, kita tidak lagi hanya bertarung dengan tumpukan
tugas kuliah, tapi juga dengan angka inflasi yang mulai “mencubit” uang
saku. Angka 3,55% mungkin terdengar kecil di berita, tapi di dompet kita, itu
berarti harga seporsi makan siang yang naik atau biaya langganan aplikasi
penunjang kuliah yang makin mencekik.
Banyak yang salah kaprah bahwa frugal living adalah gaya hidup serba
kekurangan atau “pelit” pada diri sendiri. Padahal, bagi kita mahasiswa,
frugal living adalah pernyataan sikap. Di tengah gempuran tren check-out
keranjang kuning dan budaya kopi kekinian yang impulsif, memilih untuk
menahan diri adalah sebuah keberanian.
“Kenapa kita harus peduli?”
Kemandirian di Atas Gengsi: Saat kita mulai membedakan mana “butuh” dan
mana “ingin”, kita sedang belajar untuk tidak didikte oleh tren media sosial.
Investasi Masa Depan: Mengalokasikan dana darurat sejak semester awal
bukan berarti kita pesimis, tapi kita sedang membangun jaring pengaman
agar studi kita tidak terganggu jika ada badai ekonomi mendadak.
Substitusi Cerdas: Menukar gaya hidup konsumtif dengan gaya hidup yang
lebih fungsional (misalnya: membawa tumbler sendiri atau mencari referensi
buku gratis di perpustakaan) adalah bentuk kecerdasan adaptasi.
Era inflasi ini adalah ujian nyata bagi kita. Apakah kita akan menjadi korban
dari kenaikan harga, atau menjadi mahasiswa yang tangguh secara
finansial? Pilihan ada di tangan kita. Karena pada akhirnya, kekayaan bukan
dilihat dari seberapa banyak yang kita belanjakan, tapi seberapa bijak kita
mengelola apa yang kita punya.