By : Jeremi Efraim Napitupulu – Ep’25
Bumi menarikan batinnya dengan bahasa isyarat hujan, dengan irama sungai, dengan tumbuhan, dan keindahannya di antara insan dan makhluk semesta.
Ia bercerita tanpa suara, setiap tetesan hujan menjadi aksara, aliran sungai memancarkan kidungnya, dan setiap helai yang bergoyang menjadi suluh semesta yang berbisik lembut khas harmoninya.
Namun kini… langit tak lagi sekadar mendung Ia menyimpan lara dan air mata melihat kondisi sang bentala tanpa ia sempat bertanya, ke mana jalan untuknya bermuara.
Jika hari ini bumi masih memberi suaranya, maka jangan tunggu sampai ia hilang… dan akhirnya… kita dapat menghargai rupanya…
Luka bumi adalah luka kita. Suara bumi adalah suara kita. Dan selama kita masih mampu bersuara, selama itu pula cahaya belum benar-benar ditelan.