By : Joy Ananda Perangin-Angin – EP24
Dulu napasnya adalah embun pagi yang menari, Kini sesaknya
mengepul dari cerobong yang tak pernah mati. Jantung hutan
perlahan berhenti berdetak, Diganti gemuruh besi yang terus
mengoyak dan meretas. Ada lara pada getah yang menetes dari sisa
akar, Dan tangis lautan yang kini pekat terbakar.
Kita memahat surga dari tulang-belulang karang, Membangun menara
di atas tanah yang meradang. Gunung-gunung ditelanjangi demi kilau
fana, Membiarkan rahim bumi mengering tanpa sisa. Keserakahan
sempat membungkam nyanyian semesta, Meninggalkan debu pada
daun yang tak lagi muda.
Tapi dari sela-sela retakan aspal yang gersang, Sebuah bisikan
bangkit, menolak hilang. Ini bukan saatnya meratapi abu, Ini
waktunya suara kita menyatu menjadi gemuruh baru. Kita adalah
benih yang menolak mati di tanah beracun, Menjadi perisai bagi pohon
yang rebah beruntun.
Mari berteriak untuk sungai yang dibungkam limbah, Mari berdiri untuk
satwa yang tersingkir dan kalah. Tangan yang dulu abai, kini harus
mulai menanam, Mengubah sesal menjadi janji yang paling dalam.
Luka bumi adalah luka kita bersama, Dan penyembuhannya
berawal dari gaung satu suara.