By : Vika Christin E. Doloksaribu – Akt’25

 

Belakangan ini, berita tentang bencana alam terasa semakin sering muncul. Gunung erupsi, banjir, tanah longsor, dan berbagai peristiwa lainnya datang silih berganti, seolah menjadi berita sehari-hari. Kita mungkin melihat beritanya melalui layar ponsel, kita mungkin merasa iba melihatnya, kita mungkin ikut sedih, membagikan beritanya, atau menuliskan “semoga semua baik-baik saja”. Namun, tidak lama setelah itu, kehidupan kita berjalan seperti biasa. Layaknya rutinitas mahasiswa, kita melanjutkan aktivitas kita seperti kuliah, mengerjakan tugas, nongkrong, membuka media sosial, lalu tidur. Keesokan harinya, muncul berita baru yang seringkali bahkan ‘menutupi’ berita sebelumnya, padahal persoalan yang ada belum sepenuhnya terselesaikan dan solusi nyata belum
juga ditemukan, wajar kita mudah lupa(?).  Jadi, apakah kita benar-benar peduli, atau kita justru menjadi terbiasa melihat berita bencana yang semakin sering muncul belakangan ini? Kita mungkin masih peduli, namun paparan berita bencana yang terus-menerus dapat menimbulkan kelelahan empati. Kita menjadi tidak lagi terlalu terkejut atau merasa terdorong untuk membantu. Oleh karena itu, jangan membiarkan banjir informasi mengubah bencana menjadi sekadar tontonan. Di balik setiap berita, ada manusia yang kehilangan rumah, keluarga, atau rasa aman.

Memang, tidak semua bencana terjadi karena kesalahan manusia. Kita mungkin pernah mendengar kata trikotomi kendali. Konsep trikotomi kendali mengajarkan bahwa ada hal-hal yang dapat kita kendalikan, ada yang berada di luar kendali, dan ada pula hal yang tidak dapat kita kendalikan secara langsung tetapi masih bisa kita pengaruhi. Dalam hal ini, benar adanya bahwa kita tidak bisa mengatur kapan gunung akan erupsi, kapan gempa terjadi, atau kapan hujan turun dengan deras. Itu adalah bagian dari alam yang memang berada di luar kendali kita. Namun,
memahami bahwa ada hal yang tidak bisa kita kendalikan bukan berarti kita tidak bisa melakukan apa-apa. Justru di sinilah kita perlu membedakan antara apa yang berada di luar kendali kita dan apa yang masih bisa kita pengaruhi. Kita mungkin tidak dapat menghentikan hujan, tetapi kita bisa menjaga agar saluran air tidak dipenuhi sampah. Kita tidak bisa mengendalikan proses alam, tetapi kita bisa menjaga hutan, ruang terbuka hijau, dan lingkungan tempat kita tinggal. Dengan demikian, kita tetap memiliki kendali atas tindakan manusia yang dapat memperbesar atau mengurangi risiko serta dampak bencana. Kita mungkin tidak bisa menghentikan bencana, tetapi kita masih bisa
memilih untuk tidak ikut memperparah keadaan. Kadangkala kita bukan tidak tahu cara ‘mencegah’, bahkan kita tahu apa penyebabnya, namun kita selalu bertanya “mengapa hal ini bisa terjadi” seolah kita tak tahu.

Sebagai mahasiswa, menurut saya kita punya tanggung jawab lebih dari sekadar mengetahui bahwa lingkungan sedang bermasalah. Kita punya lebih banyak kesempatan untuk berdiskusi, mencari informasi, membuat kegiatan, menyampaikan pendapat, bahkan mengajak orang lain untuk ikut peduli. Kata ‘peduli’ tidak harus langsung membuat perubahan besar secara langsung. Yang terpenting, jangan sampai kita menjadi generasi yang hanya aktif membicarakan lingkungan ketika bencana sudah terjadi. Karena pada akhirnya, lingkungan bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan kita. Kita tinggal didalamnya. Kita menghirup udaranya, menggunakan airnya, menikmati hasil alamnya, dan membangun kehidupan di atas tanahnya.

Jadi, ketika bumi mulai menunjukkan ‘lukanya’, mungkin sudah saatnya kita berhenti hanya bertanya “Kenapa bencana ini terjadi?”. Kita seharusnya bertanya: “Apa yang selama ini sudah kita lakukan terhadap bumi?”. Apakah kita benar-benar tidak tahu penyebabnya, atau hanya memilih berpura-pura tidak tahu agar tidak perlu merasa bersalah dan bertanggung jawab?. Dan setelah semua itu, “Apa kita mau melakukan sesuatu?. Karena peduli bukan hanya tentang merasa iba ketika bencana melanda. Peduli juga berarti berusaha mencegah kerusakan yang masih bisa kita cegah, menjaga apa yang masih bisa kita jaga, dan berani menyuarakan apa yang perlu diperbaiki.

0 0 vote
Article Rating