Persaudaraan, Kasih Sukacita dalam Harmoni Natal
by: Wandry Sitanggang, MNJ’16
Natal merupakan sebuah momen yang sangat dinantikan oleh semua orang Kristiani. Dalam perayaan natal orang percaya banyak pergi ke Gereja untuk mengikuti perayaan ini, Gereja dihiasi dengan mewah dan semegah mungkin, orang-orang kristiani bersuka cita, saling bertukar kado saling memberi hadiah, menghiasi rumah rumah dengan pernak-pernik yang indah.
Natal merupakan peristiwa kelahiran, dalam bahasa latin natal (natus) yang artinya lahir atau melahirkan. Dalam serapan Bahasa Indonesia natal diartikan sebagai kelahiran Yesus Kristus ke dunia. Natal juga dapat diartikan sebagai perjumpaan antara yang Ilahi dan yang manusiawi. Dalam peristiwa ini Allah menjelma menjadi manusia dalam sosok bayi yang rapuh yang lahir dikandang domba, Allah datang kedalam lorong kelam hidup manusia.
Seiring berjalannya waktu makna natal ini sering tersamarkan oleh pengaruh budaya-budaya yang seakan-akan menggambarkan makna nyata natal tersebut. Pesta, ornamen yang sangat megah dan mewah, kado-kado, santa claus, pohon natal ini lah yang menggambarkan citra Natal saat ini. Natal seharusnya manjadi pemaknaan akan karya keselamatan yang telah dilakukan Allah melalui Yesus Kristus.
Persaudaraan
Allah turun kedunia menjelma menjadi manusia berjumpa dan menyapa dunia. Natal bisa kita maknai sebagai budaya perjumpaan. Budaya perjumpaan ini menggambarkan persaudaraan yang hidup diantara sesama ciptaan Tuhan. Sains, teknologi, kedokteran, industry dan kesejateraan berkembang positif namun terdapat kemerosotan moral yang mempengaruhi tindakan dan pelemahan nilai dan tanggung jawab social dan rohani. Rasa memiliki sebagai sebagai saudara keluarga yang semakin memudar, sikap tertutup dan intoleran yang menjauhkan sesama manusia, komunikasi digital yang mengarahkan kita untuk menampilkan segalanya, individu dijadikan sebagai objek perhatian dan ditelanjangi sehingga rasa hormat pudar serta saling mengabaikan
Dalam bayang-bayang pekat ini, melalui perayaan natal ini terdapat jalan pengaharapan. Dengan perayaan ini kita merefleksikan kebaikan Allah kedunia ini dengan perjumpaan dengan umatnya mendorong kita menemukan kembali makna persaudaraan yang menghidupkan, menghargai sesama, meningkatkan kepedulian, membuat hidup lebih indah dan bermartabat. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat (Rom12;10)
Kasih Sukacita
Natal menjadi makna prinsip karya Allah dan merupakan aspek transendental dengan umat yang tewujud dalam cinta kasih. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16).
Kehidupan kita saat ini cenderung menjauh dari Kasih, buah-buahnya ialah perang, penganiayaan, terorisme, ketamakan sehingga memunculkan ketakutan, rasa tidak aman, kesendirian. Adanya perang menimbulkan penderitaan bagi umat manusia baik kemiskinan dan juga nyawa. Penganiayaan yang dilakukan oleh sesama terhadap sesama manusia, pelecehan, bully dan individualism.
Melalui natal ini kita kembali mengingat dan mereflesikan prinsip karya Allah akan dunia dimana Allah datang dengan kasih dan cinta yang tulus. Kita umat Allah diajak untuk melampaui diri dan meninggalkan egoism untuk dapat berjumpa dengan yang lain. Kita juga diajak untuk terlibat praksis berbela Rasa, belas kasih, perjuangan keadilan sehingga mandatangkan suka cita diantara kita
Penutup
Sukacita Natal saat ini memberikan kita harapan dibalik bayang-bayang gelapnya rasa pudarnya kasih diantara sesama manusia, pudarnya rasa persaudaraan, pudarnya rasa kekeluargaan dan perdamaian. Natal menjadi pembebasan dari belenggu, menerima kasih suka cita oleh Kasih Karunia Allah. Mari membangun Persaudaraan yang menghidupkan dan Kasih diantara sesama ciptaan Tuhan.
Selamat Hari Natal, Tuhan Yesus Memberkati
Opini.pdf (unduh)