Malas Bawa Botol Minum?

Jesica Siringoringo’Akt24

Banyak mahasiswa yang lebih memilih botol kemasan dibandingkan membawa botol minum dari rumah karena praktis. Kalimat ini mungkin terdengar familiar di kalangan mahasiswa. Kemudahan dan kepraktisan botol kemasan memang sulit dipungkiri. Namun, pernahkah kita merenungkan dampak jangka panjang dari pilihan “praktis” ini terhadap lingkungan dan masa depan bumi kita?

Green economy atau ekonomi hijau adalah sistem ekonomi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Ekonomi hijau bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia dan mengurangi risiko lingkungan. Pilihan kita sebagai mahasiswa untuk membawa botol minum sendiri memiliki kontribusi besar dalam mewujudkan green economy.

Setiap botol kemasan yang kita beli adalah kontribusi terhadap:
1. Laut sampah: Jutaan ton sampah plastik dihasilkan setiap tahunnya, dan botol kemasan adalah salah satu penyumbang terbesarnya. Sampah plastik membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai, mencemari tanah dan lautan, serta membahayakan ekosistem.
2. Kerusakan lingkungan: Eksploitasi sumber daya untuk produksi botol kemasan dan pencemaran lingkungan akibat sampah plastik merusak ekosistem dan keanekaragaman hayati.

Ketika kita membeli 1 botol kemasan dengan harga Rp 5.000 maka dengan menambahi Rp 2.000 lagi sama dengan membeli air galon isi ulang senilai Rp 7.000 yang dapat digunakan selama 1 minggu. Selain menjaga lingkungan, kantong kita juga terjaga.

Membawa botol minum sendiri : Langkah Kecil Dampak Besar
Pilihan untuk membawa botol minum sendiri adalah langkah kecil yang memiliki dampak besar dalam konteks green economy. Kita turut serta dalam upaya menciptakan ekonomi yang keberlanjutan dan ramah lingkungan.
Ajakan untuk aksi nyata
Minimalkan sampah botol mulai dari sekarang.

 

Renungan ( Unduh )

0 0 vote
Article Rating