By : Pebriani Arta Manalu – Akt’25

Senja selalu datang dengan cara yang sama, tetapi tidak dengan bumi yang menyambutnya.
Di balik cahaya jingga yang perlahan tenggelam, terlihat sungai yang mengalir dengan warna keruh.                  Sampah mengambang dipermukaannya, sementara di tepian, beberapa pohon yang dahulu menjadi peneduh kini hanya menyisakan tunggul dan tanah yang mengering.

Nara berdiri cukup lama di sana. Ia pernah mengenal tempat itu sebagai ruang yang hidup. Tempat anak-anak bermain, burung-burung singgah, dan air mengalir tanpa membawa bau yang menyengat. Kini, semuanya terasa asing.

“Bumi tidak pernah benar-benar diam,” kata Ayahnya suatu sore.                                                                                  “Hanya saja, manusia terlalu sering mengabalkan suara yang tidak mampu berteriak.”
Kalimat itu kembali terlintas di pikirannya.

Mungkin suara bumi memang bukan suara yang terdengar oleh telinga. Ia hadir dalam sungai yang kehilangan kejernihannya, hutan yang perlahan menghilang, udara yang semakin sesak, dan tanah yang tak lagi mampu menahan air. Kita menyebutnya bencana. Padahal bisa jadi, itu adalah cara bumi menyampaikan luka yang terlalu lama dipendam.

Nara kemudian mengambil satu botol plastik yang tersangkut di antara rerumputan. Ia tahu, satu botol tidak akan mengubah keadaan. Satu orang tidak akan serta-merta menyembuhkan bumi. Namun la juga sadar, kerusakan besar sering kali berawal dari tindakan kecil yang terus diulang. Begitu pula dengan kepedulian.

Hari itu, Nara memilih untuk tidak hanya menjadi seseorang yang melihat. Ia memilih untuk bersuara. Bukan dengan kata-kata besar, tetapi dengan tindakan sederhana yang dapat dilakukan bersama. Sebab menjaga bumi bukan sekadar tentang menyelamatkan alam, melainkan tentang mempertahankan ruang kehidupan yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Senja semakin redup. Nara menatap sungal itu sekali lagi. Barangkali bumi tidak membutuhkan manusia yang merasa mampu menyelamatkannya. Bumi hanya membutuhkan manusia yang bersedia berhenti melukainya.
Karena ketika bumi terluka, sesungguhnya kita sedang mendengar suara kita sendiri.

LUKA BUMI, SUARA KITA.
Dengarkan sebelum semuanya terlambat.

0 0 vote
Article Rating