By : Ruth Vanessa Valerie Simanjuntak – Akt’24
Asap tipis masih membumbung dari sisa-sisa pepohonan yang meranggas, menyisakan batang-batang hitam yang tak lagi berdaun. Di tempat yang dulunya menjadi kanopi hijau nan rimbun, kini tanah retak menelan doa-doa panjang yang dibisikkan oleh kehidupan di sekitarnya. Hutan rindang yang menjadi paru-paru bumi telah musnah tinggal arang dan tulang.
Burung-burung yang hinggap terbisa mengepakkan sayap kebingungan, kehilangan dahan tempat mereka biasa pulang dan bersarang. Namun di tengah rintihan alam itu, kesibukan manusia tak kunjung reda, mereka hanya sibuk meratapi dan menangisi harta benda yang ikut lenyap ditelan kehancuran.
Ketidakseimbangan ini tak butuh waktu lama untuk memicu kemurkaan alam. Tanpa peringatan, air bah datang menerjang, menghantam pemukiman tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Keangkuhan tembok-tembok beton yang selama ini berdiri megah dan terasa tak tertandingi, seketika hanyut disapu arus yang tak terkendali. Lewat banjir besar dan gemuruh bencana, bumi sesungguhnya sedang menjerit dalam bahasa yang sangat pilu. Jeritan itu adalah bentuk tagihan atas janji-janji kelestarian yang sering diucapkan, namun terus dihancurkan oleh keserakahan manusia yang tak pernah merasa puas.
Bencana yang terjadi hari ini bukan sekadar amarah semesta yang datang tanpa alasan. Ini adalah cerminan nyata dari luka mendalam yang ditanggung bumi luka yang kini menanti keberanian dan kesadaran suara kita untuk menyuarakan kebenaran. Kita tidak boleh terus berdiam diri menjadi penonton dari kerusakan yang kita ciptakan sendiri. Sebelum tempat tinggal kita benar-benar lenyap tak tersisa, sudah saatnya kita bergandengan tangan, merajut kembali setiap kepalan hijau yang masih tersisa, dan mengembalikan kehidupan bagi bumi tempat kita berpijak.