NEGERI DI UJUNG KOMPROMI
By: FLoratasya manullang (Mnj’24)
Kabinet berganti rupa,
seperti langit yang menukar awan,
tapi angin tetap sama.
Merah masih menyala,
putih masih mencari makna.
Menteri datang, menteri pergi,
kursi digeser, janji ditata,
ada yang naik karena suara,
ada yang turun tanpa berita.
Ekonomi digenggam tangan baru,
fiskal menari di ujung ragu.
Apakah ini simfoni strategi,
atau hanya jazz politik yang tak bertepi?
Olahraga ditukar dengan dagang,
dagang ditukar dengan harapan,
harapan ditukar dengan…
tunggu, apa yang tersisa?
Indonesia, ke mana kau melangkah?
Di antara reshuffle dan retorika,
di antara janji dan juru bicara,
rakyat menunggu bukan hanya suara-tapi kerja,
nyata dan terbuka.
Jika kabinet adalah cermin,
maka rakyat adalah wajahnya.
Dan bila wajah tak lagi dikenali,
mungkin cerminnya perlu diganti
Puisi ( Unduh )