Buruh adalah Pondasi Bangsa

By: Serzia Sitepu (akt’24)

Kita sering dengar istilah keren kalau buruh itu adalah “pondasi bangsa” atau “tulang punggung ekonomi.” Tapi kalau kita jujur melihat apa yang terjadi di pasar dan dapur rumah tangga hari ini, istilah itu rasanya jadi pahit sekali. Bagaimana mungkin sebuah pondasi dibiarkan “sakit” dan terhimpit sendirian di dasar krisis? Realitanya, buruh bukan cuma orang-orang yang ada di pabrik besar. Mereka adalah kurir yang mengantar paket kita, petugas kebersihan yang menyapu jalanan sejak subuh, sampai perawat yang berjaga di rumah sakit. Intinya, mereka adalah orang-orang yang memastikan hidup kita sehari-hari berjalan normal. Bayangkan saja kalau sehari saja mereka berhenti bergerak; kota ini pasti langsung kacau. Tapi sayangnya, peran yang segitu besarnya seringkali cuma dianggap sebagai angka statistik belaka.

Belakangan ini, situasinya makin berat karena “badai harga.” Mulai dari beras, cabai, minyak goreng, sampai telur, semuanya naik drastis. Belum lagi urusan BBM yang harganya ikut naik karena gejolak global. Bagi mereka yang upahnya pas-pasan, kenaikan ini bukan cuma soal “hemat belanja,” tapi soal bertahan hidup. Banyak yang terpaksa memotong nutrisi makanan atau bahkan berutang sana-sini cuma buat menutup lubang kebutuhan. Yang paling menyedihkan, ada yang sampai harus menunda sekolah anak mereka demi bisa makan hari ini. Padahal, kita semua tahu pendidikan itu masa depan.

Padahal, investasi terbaik sebuah perusahaan sebenarnya bukan pada mesin baru, tapi pada kesejahteraan orang-orang di dalamnya. Pekerja yang sejahtera itu pasti lebih loyal dan produktif. Kalau hak dasar mereka seperti upah layak dan jaminan kesehatan terus diabaikan, sebenarnya kita sedang merusak masa depan industri kita sendiri. Pertumbuhan ekonomi yang cuma dinikmati segelintir orang di atas itu cuma fatamorgana kalau orang-orang di bawahnya makin sulit bernapas.

Sebagai sesama masyarakat, kita juga punya peran. Sesederhana mengucapkan terima kasih atau menyapa mereka dengan manusiawi sudah sangat berarti untuk mental mereka. Tapi tentu itu nggak cukup. Perlu ada kebijakan yang benar-benar memihak pada jaminan hidup mereka. Jangan sampai kita baru sadar betapa pentingnya mereka saat pondasi ini sudah benar-benar rapuh dan roboh pelan-pelan. Menjaga buruh tetap kuat berarti menjaga bangsa ini tetap tegak.

 

Opini ( Unduh )

0 0 vote
Article Rating