Buruh Sang Jantung Ekonomi Bangsa

Umbu Zega Akt’22

Buruh bukanlah nama tanpa makna. Buruh adalah mereka yang bekerja saat kita masih tertidur. Yang berdiri tegak meski badan lelah. Yang tetap melangkah, meski hak mereka belum sepenuhnya ditegakkan. Buruh bukan figuran. Mereka adalah pemeran utama dalam panggung ekonomi. Mereka bukanlah mesin. Mereka bukan juga angka statistik. Mereka adalah manusia dengan Impian yang banyak, dengan keluarga dan juga dengan harga diri.

Mereka bukan juga pelengkap. Mereka adalah penyangga. Tanpa buruh, pabrik berhenti. Produksi lumpuh, Ekonomi runtuh. Setiap produk, setiap gedung, setiap layanan ada keringat buruh di dalamnya. Tapi terlalu sering, suara mereka diabaikan dan setiap hak mereka dipinggirkan.

Jika ekonomi adalah tubuh, maka buruh adalah jantungnya. Dan jantung ini harus dijaga supaya tetap berdetak. Bukan malah ditekan, bukan malah di eksploitasi. Setiap detik waktu kerja mereka adalah detik-detik penggerak roda ekonomi bangsa. Tanpa mereka, industri
mati. Tanpa mereka, pasar lumpuh. Tanpa mereka, bangsa ini berhenti.

Namun apa yang mereka terima? Upah yang tak sebanding. Perlindungan yang minim. Suara yang sering dibungkam. Mereka menuntut bukan kemewahan akan tetapi mereka menuntut keadilan, Kehidupan yang layak, Keselamatan kerja dan Jaminan untuk hari tua.

Ini bukan permintaan. Ini adalah hak. Hak yang dijamin oleh konstitusi. Hak yang harus dihormati oleh negara. Karena bangsa yang kuat bukan hanya dilihat dari tingginya gedung, tapi dari bagaimana ia memperlakukan buruh nya.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati buruh nya!!!

 

Opini ( Unduh )

0 0 vote
Article Rating