GMKI
1. Sejarah GMKI
Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) berdiri pada tanggal 9 Februari 1950 di kediaman Dr. Johannes Leimena di Jl. Teuku Umar No. 36, Jakarta. Pertemuan tersebut dihadiri oleh perwakilan dari PMKI (Perhimpunan Mahasiswa Kristen Indonesia) dan CSV (Christelijke Studenten Vereniging). Dalam pertemuan itu dicapai kesepakatan bahwa kedua organisasi tersebut akan melebur menjadi satu organisasi baru yang dinamakan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Pada saat itu juga, Dr. Johannes Leimena ditunjuk sebagai Ketua Umum pertama GMKI, dan selanjutnya diadakan kongres untuk meresmikan struktur organisasi.
Dr. Johannes Leimena sendiri merupakan tokoh nasional yang dikenal sebagai dokter, politisi, dan pahlawan nasional. Ia menjabat sebagai menteri dalam berbagai kabinet selama pemerintahan Presiden Soekarno, dengan masa jabatan total hampir 20 tahun.GMKI sebagai organisasi yang lahir 59 tahun yang lalu telah menjalankan suatu rangkaian sejarah sendiri.
GMKI didirikan dengan semangat untuk:
- Mempersatukan mahasiswa Kristen dari berbagai daerah dan latar belakang
- Mewujudkan pelayanan di tengah-tengah masyarakat dan bangsa (PA dan kelompok doa)
- Membina keimanan Kristen dalam konteks kehidupan kemahasiswaan dan kebangsaan.
2. VISI DAN MISI GMKI
Visi
Terwujudnya kedamaian, kesejahteraan, keadilan, kebenaran, keutuhan ciptaan dan demokrasi di Indonesia berdasarkan kasih.
Misi
1. Mengajak mahasiswa dan warga perguruan tinggi lainnya kepada pengenalan akan Yesus Kristus selaku Tuhan dan Penebus dan memperdalam iman dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari.
2. Membina kesadaran selaku warga gereja yang esa di tengah-tengah mahasiswa dan perguruan
tinggi dalam kesaksian memperbaharui masyarakat, manusia dan gereja
3.Mempersiapkan pemimpin dan penggerak yang ahli dan bertanggungjawab dengan menjalankan
panggilan di tengah-tengah masyarakat, negara, gereja, perguruan tinggi dan mahasiswa, dan menjadi
sarana terwujudnya kesejahteraan, perdamaian, keadilan, kebenaran dan cinta kasih ditengah-tengah manusia dan alam semesta.
3. Panca Kegiatan GMKI
1. Beribadah dan Berdoa
Menempatkan doa sebagai aktivitas keseharian dan ibadah sebagai bentuk pesekutuan untuk saling menghidupkan secara iman, juga berarti beraktivitas dalam bidang apapun. Dalam hal itu, dilakukan sebagai tanggapan manusia atas panggilan Allah menjadi pelakasana mandat untuk mengusahakan dan memelihara seluruh ciptaan Tuhan.
2. Belajar
Kader GMKI terus melakukan dialektika lewat diskusi, belajar mandiri, riset dan aktivitas belajar lainnya sebagai upaya menguasai ilmu yang ditekuninya. Selain indept, karakterisktik berikutnya adalah interdisipliner yakni dalam belajar seseorang mampu mengaitkan keilmuannya dengan kebenaran ilmu lain disekitarnya.
3. Bersaksi
Berani untuk menjalankan peran peran Gereja, yakni mengabarkan kabar sukacita.kesaksian dapat diterapkan dalam bentuk memberikan khotbah tentang kabar baik Allah, pelayanan dalam kehidupan sosial, memperjuangkan kebenaran dan lainnya.
4. Bersosial
Mengandung arti segala sesuatu mengenai masyarakat atau suka memperhatikan kepentingan umum misalnya suka menolong, bergotong royong, aksi sosial dan sebagainya.
5. Berkreasi
Aktivitas mengoptimalkan daya kreasi yang sudah ada sebagai bentuk kecerdasan manusia. Pengoptimalannya dengan cara menciptakan buah pikiran yang baru dan inovatif.
4. Tri Panji GMKI
1. Tinggi Iman
Iman sebagai manifestasi karakter dan nilai kekristenan iman. Kata iman dalam Tri Panji diletakkan pertama selaku pertanda bahwa dalam landasan iman itulah seluruh keberadaan lingkungan GMKI dapat “ditangkap” untuk kemudian lebih lanjut ditanggapi. Dengan kata lain setiap fenomena lingkungan harus dapat ditangkap (impressi) oleh GMKI, yang kemudian ditanggap (expressi) setelah melalui penggodokan imannya. Dengan demikian tanggapan GMKI akan senantiasa bersifat Kristiani dan original. Kata iman menjadi sangat penting sampai pada tingkatan praksis karena tanpa kualitas iman yang baik GMKI akan sulit diterima oleh lingkungannya. Dalam pendekatan historis, konferensi/kongres GMKI II di Sukabumi tahun 1952 sudah memperingatkan anggota-anggotanya dengan kata-kata yang serius.
Dalam kerangka personal maupun institusi, GMKI dituntut untuk tidak bersoal dengan kualitas keimanannya sebelum menjadi garam dan terang bagi lingkungannya. Kualitas keimanan tersebut tidak sekedar memuat pesan spiritualitas tetapi juga integritas serta karakter kekristenan.
Poin pertama dari keimanan tersebut adalah spiritualitas yaitu tentang hubungan jiwa yang intim dengan Tuhannya. Hubungan ini jauh melampaui interaksi apapun di muka bumi ini. Poin kedua adalah integritas yaitu konsistensi yang dilandasi hikmat takut Tuhan. Dalam bahasa sederhana, yaitu satunya kata dan perbuatan bukan karena takut/segan pada manusia tetapi karena takut akan Tuhan. Poin ketiga yaitu karakter kristiani yang penuh cinta kasih. GMKI secara ideal dalam aktivitasnya berlandaskan cinta kasih yang penuh dengan ketulusan.
2. Tinggi Ilmu
GMKI terdiri dari mahasiswa sebagai kaum terpelajar, oleh karena itu ia harus senantiasa menampakkan intelektualitasnya baik dalam berpikir maupun bertindak. Dari sini akan terlihat bahwa segala sesuatu yang dilakukan berbasis kajian yang ilmiah. Kapasitas intelektual diperoleh dengan ilmu yang cukup. Ilmu tersebut tidak hanya bersumber dari ruang-ruang kelas di kampus, tetapi juga dari setiap pengalaman interaksi pribadi dan organisasi di gereja dan masyarakat. Panji yang kedua yaitu tinggi ilmu merupakan manifestasi dari ciri dan sifat kemahasiswaannya yang mengedepankan intelektualitas tersebut. Pesan firman, Takut akan Tuhan adalah permulaan dari pengetahuan (Amsal 1:7) membuat keilmuan yang dimiliki oleh kader GMKI tidak boleh untuk dipergunakan secara salah.
3. Tinggi Pengabdian
Tinggi Pengabdian sebagai bentuk kesiapan aksi pelayanan kader (Lihat Yoh. 1: 46 “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”) Cerdik seperti ular, tulus seperti merpati Dalam menanggap pergumulan lingkungannya, GMKI mengedepankan nalar ilmiah, Realistis serta adaptif terhadap dinamika perubahan. Hikmat yang bersumber dari impresi Teologisnya kemudian menghasilkan kesimpulan sikap untuk merespon setiap pergumulan tersebut dengan tepat. Dalam kerangka tersebut,