Tiang-Tiang yang Keropos
Arya Nababan (Akt’23)
Di Istana, layar berganti,
Wajah-wajah baru datang lagi.
Kau sebut ini evaluasi,
Kami bertanya, adakah esensi?
Sebab tiang kekuasaan yang kau bangun,
Runtuh oleh rayap janji yang karun.
Di balik kursi yang berpindah,
Terdapat narasi yang tak mudah.
Ada bisik tentang bagi-bagi kuasa,
Di antara mimpi rakyat yang kian lara.
Sajak ini bukan untuk memuji,
Tapi menguji, apakah integritas masih dimiliki.
Tumbangnya Sri Mulyani,
Antara simpati dan kritik yang abadi.
Sedang yang lain terhempas oleh isu,
Menyisakan tanda tanya yang membisu.
Apakah ini langkah kebersihan sejati,
Atau hanya manuver politik yang disemati?
Wahai para penentu arah,
Di pundakmu ada amanat rakyat yang lelah.
Tentang pendidikan yang tak sekadar percobaan,
Tentang lapangan kerja yang penuh harapan.
Dan korupsi yang tak habis digerus,
Membuat keyakinan kami kian tergerus.
Kami adalah pemilik sah republik ini,
Yang di tepi jalan bertanya, inikah merdeka sejati?
Maka jangan lagi menipu kami,
Dengan kata-kata hampa yang hanya retorika basi.
Berjalan terus, jangan lagi mundur,
Demi Indonesia yang berdaulat, bukan sekadar diatur.
Puisi ( Unduh )