Frugal Living di Era Inflasi
By: Andru Ginting (Mnj’23)
Frugal living merupakan istilah yang sudah cukup sering kita dengar, khususnya di kalangan mahasiswa. Di tengah kondisi ekonomi yang dipengaruhi oleh inflasi, frugal living menjadi salah satu gaya hidup yang mulai banyak diterapkan. Sebagian orang mungkin telah lama menerapkannya, sementara sebagian lainnya mulai mengadopsi gaya hidup ini sebagai respons terhadap meningkatnya biaya hidup. Secara sederhana, frugal living dapat diartikan sebagal gaya hidup hemat dan bijak dalam mengelola keuangan. Fokus utama dari frugal living adalah efisiensi dalam penggunaan uang, yaitu dengan mengurangi pengeluaran yang sebenarnya tidak terlalu penting serta berusaha memperoleh nilai terbaik dari setiap pembelian yang dilakukan.
Sebagai contoh, ketika seseorang dihadapkan pada dua pilihan produk dengan fungsi yang sama, di mana salah satu produk memiliki merek yang lebih terkenal dengan harga yang lebih mahal, sementara produk lainnya memiliki harga yang lebih murah namun tetap memiliki fungsi yang sama, maka seseorang yang menerapkan frugal living akan mempertimbangkan secara rasional dan cenderung memilih produk yang lebih efisien secara harga.
Contoh lain yang sering ditemukan di kalangan mahasiswa adalah dalam pengeluaran untuk kebutuhan makan. Banyak mahasiswa yang memilih untuk memasak sendiri di rumah atau hanya membeli lauk kemudian memasak nasi sendiri. Cara ini dilakukan untuk menekan pengeluaran harian sehingga kondisi keuangan tetap stabil. Dengan demikian, sisa dana yang ada dapat dialokasikan untuk menabung ataupun digunakan untuk tujuan lain seperti investasi.
Namun demikian, penting untuk memahami bahwa terdapat perbedaan yang cukup mendasar antara frugal living dan sifat pelit. Seseorang yang pelit cenderung enggan mengeluarkan uang, bahkan untuk kebutuhan yang sebenarnya penting. Sebaliknya, seseorang yang menerapkan frugal living tetap bersedia mengeluarkan uang ketika memang diperlukan, tetapi mampu mengelola dan menempatkan pengeluaran tersebut secara bijak.
Orang yang menerapkan frugal living mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Ketika suatu hal benar-benar dibutuhkan, ia tidak ragu untuk membelinya. Namun, ia juga mampu menahan diri untuk tidak membeli sesuatu yang hanya bersifat keinginan semata. Berbeda dengan orang yang pelit, yang biasanya hanya akan membeli sesuatu ketika sudah benar-benar terdesak, bahkan sering kali tetap memilih pilihan yang paling murah tanpa mempertimbangkan kualitas.
Sebagai ilustrasi, ketika seseorang membutuhkan sepatu lari, ia mungkin dihadapkan pada dua pilihan: sepatu dengan harga sekitar seratus ribu rupiah yang kemungkinan cepat rusak, atau sepatu dengan harga tiga juta ruplah yang memiliki kualitas jauh lebih baik dan lebih tahan lama. Seseorang yang menerapkan frugal living dapat saja memilih sepatu yang lebih mahal apabila la menilai bahwa produk tersebut memiliki value for money yang lebih baik, lebih tahan lama, dan tidak perlu sering diganti. Hal ini menunjukkan bahwa frugal living tidak selalu berarti menggunakan uang sehemat mungkin tanpa pertimbangan. Sebaliknya, frugal living menekankan pada kemampuan untuk menentukan kapan harus berhemat dan kapan perlu mengeluarkan uang untuk mendapatkan manfaat yang lebih besar dalam jangka panjang.
Dengan kata lain, seseorang yang menerapkan frugal living memahami dengan baik bagaimana mengelola uangnya: kapan harus menekan pengeluaran dan kapan harus mengalokasikan dana lebih untuk kebutuhan tertentu yang memang memberikan nilai dan manfaat lebih besar.
Berbeda dengan orang yang pelit yang cenderung hanya berfokus pada mengumpulkan dan menyimpan uang sebanyak mungkin tanpa perencanaan yang jelas mengenai penggunaannya. Sementara itu, seseorang yang menerapkan frugal living tidak hanya berusaha memperoleh dan menyimpan uang, tetapi juga memahami bagaimana mengalokasikan uang tersebut secara tepat, efisien, dan bermanfaat bagi dirinya maupun bagi orang lain di masa depan.
Oleh karena itu, bagi kita sebagai mahasiswa, frugal living dapat menjadi salah satu gaya hidup yang sangat baik untuk diterapkan, terutama di tengah kondisi inflasi seperti saat ini. Tersedianya berbagai alternatif produk dan pilihan konsumsi memungkinkan kita untuk lebih selektif dalam mengelola pengeluaran. Melalui penerapan frugal living, kita dapat belajar untuk menggunakan, menyimpan, dan mengalokasikan uang secara lebih bijak. Dengan demikian, dana yang sebelumnya berpotensi terbuang untuk hal-hal yang kurang penting dapat dialihkan untuk tujuan yang lebih bermanfaat, seperti menabung, berinvestasi, atau memenuhi kebutuhan yang lebih prioritas di masa depan.
Opini (Unduh)