KASIH TERBESAR DALAM PENGORBANAN

By: Andru Ginting (Mnj’23)

Iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati. Hal ini bukan sekadar ungkapan, melainkan kebenaran yang ditegaskan langsung dalam firman Tuhan. Dalam Alkitab, tepatnya di Yakobus 2:17, tertulis: “Demikian juga halnya dengan iman: jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati.” Artinya, iman bukan hanya soal apa yang kita katakan, tetapi bagaimana kita hidup. Kita melihat teladan paling nyata dalam pribadi Yesus Kristus. la tidak hanya berbicara tentang kasihla menunjukkan kasih itu melalui pengorbanan-Nya. Dalam Yohanes 3:16 dikatakan: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga la telah mengaruniakan Anak Nya yang tunggal…” Kasih itu bukan sekadar konsep, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata: pengorbanan di kayu salib. Bahkan dalam Roma 5:8 ditegaskan: “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Ini berarti, sebelum kita layak, sebelum kita berubah, kasih itu sudah terlebih dahulu dinyatakan lewat perbuatan. Dari sini kita belajar bahwa iman sejati selalu menghasilkan tindakan. Bukan karena kita ingin terlihat baik, tetapi karena kita telah mengalami kasih Tuhan. Ketika kita berkata bahwa kita sudah bertobat, itu tidak cukup hanya dengan kata kata. Pertobatan sejati harus terlihat dalam perubahan hidup. Seperti yang tertulis dalam Kisah Para Rasul 3:19: Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan. Dan dalam Matius 3:8: Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Artinya, ada “buah” yang terlihat perubahan sikap, cara berpikir, dan tindakan sehari-hari. Memang, sebagai manusia kita tidak luput dari kesalahan. Kita bisa jatuh, kita bisa gagal, kita bisa kembali kepada keinginan daging. Namun firman Tuhan juga menguatkan kita dalam Amsal 24:16: Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali. Yang Tuhan lihat bukan sekadar apakah kita jatuh atau tidak, tetapi apakah kita mau bangkit dan kembali kepada-Nya. Melalui momentum Paskah ini, kita diingatkan kembali akan makna pengorbanan dan kasih yang begitu besar. Paskah bukan hanya perayaan, tetapi undangan untuk refleksi. Seperti yang tertulis dalam 2 Korintus 5:17: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru. Kiranya melalui Paskah ini, kita tidak hanya tersentuh secara emosi, tetapi benar-benar mengalami pembaruan secara rohani. Supaya pengorbanan Kristus tidak menjadi sesuatu yang kita dengar berulang-ulang tanpa perubahan, tetapi menjadi titik balik dalam hidup kita. Akhirnya, biarlah iman kita tidak berhenti pada kata kata, tetapi nyata dalam tindakan dalam kasih, dalam pengampunan, dalam ketaatan, dan dalam kehidupan sehari-hari. Karena iman yang hidup adalah iman yang terlihat.

 

Opini ( Unduh )

0 0 vote
Article Rating