DIBALIK NYAMANNYA HIDUP KITA

By: Norman Silalahi (Akt’23)

Dalam kehidupan kita sehari-hari, terkadang kita merasa menjalaninya dengan santai tanpa ada rasa terbebani. Bangun pagi, kuliah, nongkrong, scroll hp, lalu selesai begitu saja. Semua terasa normal. Tapi pernahkah kita berhenti sejenak dan berpikir bahwasanya dari mana datangnya yang semua kita nikmati hari ini?
Makanan dan minuman yang kita konsumsi, pakaian yang kita pakai, bahkan tempat tinggal yang kita tempati saat ini, Ada proses panjang dibalik itu semuanya. Dari semua yang kita nikmati, ada orang-orang yang kerja keras setiap hari. Mereka bangun lebih pagi dan pulang lebih larut sore, bahkan tetap bekerja di saat kita sedang istirahat. Mereka adalah Buruh. Orang-orang yang sering kita lihat, namun jarang untuk kita perhatikan. Kita sering mendengar istilah “Buruh Sebagai Pondasi Bangsa”. Terdengar sangat penting, besar, dan seolah-olah memiliki peran yang sangat dihargai. Tapi pada realitanya tidak selalu begitu. Justru saat bangsa ini dalam keadaan terpuruk, mereka duluan yang terkena dampaknya.

Di saat harga kebutuhan pokok naik, gaji mereka malah tidak ikut naik. Uang yang mereka dapat dari hasil kerja keras seharian kadang habis cuman untuk makan dan kebutuhan dasar saja. Untuk kebutuhan lainnya seperti biaya sekolah anak, kesehatan, atau hal mendadak lainnya seringkali tidak tercukupi. Di situlah mereka harus mulai milih mana kebutuhan yang bener-bener diprioritaskan untuk dipenuhi. Hidup mereka bukan lagi tentang soal rasa kenyamanan atau tidak, tetapi tentang bagaimana mereka dapat bertahan.

Kalau direnungi lebih dalam, mungkin kita belum bisa sekuat mereka kalau ada di posisi itu. Namun kita seringkali untuk mengeluh hal kecil yang kita rasa sulit namun sebenarnya bisa kita lakukan. Hal kecil seperti itu aja bisa bikin kita kesal dan mengeluh, padahal diluar sana banyak orang yang berjuang lebih berat lagi.

Firman Tuhan yang terdapat dalam nats alkitab Kolose 3:23 bunyinya seperti ini “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Itu berarti setiap kerja keras buruh tidak ada yang sia-sia dan berharga di mata Tuhan.
Namun di sisi lain juga menjadi pengingat bagi kita, apakah kita sudah sama memandang mereka dengan cara yang sama?

Memang kita tidak bisa secara langsung mengubah keadaan mereka. Kita bukan orang yang punya kuasa di negeri ini yang bisa mengambil kebijakan untuk melakukan perubahan tersebut. Namun bukan berarti kita tidak bisa berbuat sesuatu. Kita bisa mulai dari hal kecil dengan lebih menghargai, lebih peka, dan tidak memandang remeh pekerjaan mereka.

Kalau dipikir kembali, bangsa ini berdiri bukan hanya karena orang-orang hebat di atas sana, tapi juga karena orang-orang sederhana yang bekerja tanpa banyak sorotan. Mereka mungkin tidak dikenal, tetapi memiliki peran nyata.

Dari situ aku sadar, ternyata hidup bukan cuman untuk diri sendiri. Tuhan juga mau kita belajar untuk melihat orang lain, peka terhadap sekitar kita, dan memiliki hati yang tulus untuk membantu lingkungan sekitar. Supaya kita bukan hanya orang yang menikmati, tapi juga orang yang mengerti dan menghargai

Renungan ( Unduh )

0 0 vote
Article Rating