By: Aldo Fernandes Sinaga – Mnj’25
Ketika dulu aku masih kecil, aku sangat suka ke kampung orangtuaku. Pada saat setiap kali aku sampai disana, aku sangat kagum dengan keindahan alamnya, udaranya sangat sejuk, dan juga banyak pohon-pohon besar yang tumbuh di kampung itu.
Pada saat aku keliling di kampung itu, aku melihat banyak sekali anak-anak seumuranku mandi di sungai dengan tertawa lepas. Aku tersenyum kebahagiaan itu, awalnya ingin gabung dengan mereka tapi karena aku belum selesai mengelilingi kampung ini jadi aku melanjutkan perjalananku.
Ketika aku sudah selesai mengelilingi kampung itu, aku pun istirahat di bawah salah satu pohon besar. Aku mendengar indahnya kicauan burung-burung yang hinggap di atas ranting pohon yang ada didekatku, ditambah sejuknya angin kampung itu hingga membuatku tidur nyenyak.
Beberapa tahun kemudian, aku kembali ke kampung itu. Aku sangat kaget saat aku tidak melihat lagi banyaknya pohon-pohon disana dan juga pohon besar yang dulu jadi tempatku berteduh dari sinar matahari sudah tidak ada, dan aku pun berlari untuk melihat sungai yang dulu pernah jadi tempat ku bermain sekaligus mandi. Aku sangat terkejut, karena sungai itu sekarang sudah banyak sampah plastik dan airnya sudah tidak jernih seperti dulu.
Aku terdiam cukup lama. Ternyata bukan hanya waktu lah yang mengubah tempat itu melainkan manusia juga ikut mengubah alam itu. Pohon-pohon ditebang untuk membuka lahan lalu membangun beberapa bangunan dan juga pabrik. Sampah juga sudah banyak di temukan di jalan. Sungai yang dulu bersih sekarang jadi kotor dan banyak sampah.
Aku jadi teringat masa kecil ku yang sangat menyenangkan waktu itu. Aku hanya seorang anak kecil yang senang bermain di bawah pohon dan mendengarkan suara burung. Tapi sekarang, setelah menjadi mahasiswa, aku mulai memahami sesuatu yang dulu tidak pernah kupikirkan.
Alam yang sangat indah ternyata sedang perlahan-lahan hilang. Aku emang tidak bisa mengembalikan semua pohon yang sudah ditebang. Aku juga tidak bisa mengubah semuanya hanya dengan satu suara. Tapi setidaknya, aku bisa memilih untuk tidak diam.
Luka bumi bukan hanya tentang apa yang hilang dari alam. Luka bumi adalah kehilangan kenangan yang seharusnya masih bisa dirasakan oleh generasi berikutnya.
ALAM ADA AGAR KEINDAHAN DAN KELIMPAHANNYA DAPAT DINIKMATI, BUKAN UNTUK DIHANCURKAN OLEH KESERAKAN MANUSIA.