Tata Pelaksanaan
Telah terlaksananya Penelaahan Alkitab ke III oleh pengurus komisariat GMKI FEB USU yang dilaksanakan pada Jumat, 17 Juni 2022, dengan tema “Menciptakan Surga di Hati dan di Bumi” yang diambil dari 1 Petrus 3:8-12. Penelaahan Alkitab kali ini dibawakan oleh Bapak Mesak Ebitnego Situmorang S.Th. Penelaahan Alkitab berlangsung dari pukul 17.25 WIB hingga pukul 20.15 WIB dan dilaksanakan di Sekretariat Taktis GMKI FEB USU. Penelaahan Alkitab kali ini diikuti sebanyak 25 orang dilihat dari absensi yang diisi oleh peserta. Adapun peserta yang hadir dalam Penelaahan Alkitab ini, terdiri dari pengurus komisariat sendiri, kemudian anggota GMKI FEB USU dan mahasiswa baru FEB USU 2021.
Penelaahan Alkitab diawali dengan salam pembuka oleh moderator, Dewi Tambunan (Wakil Sekretaris bidang Kerohanian), diikuti dengan memimpin doa pembuka dan dilanjut dengan menyanyikan lagu pujian yang berjudul “Hari ini kurasa bahagia”. Selanjutnya, moderator selaku yang memimpin jalannya kegiatan Penelaahan Alkitab ini memberikan kesempatan kepada pembicara Bapak untuk memaparkan materi Penelaahan Alkitab. Setelah selesai memberikan pemaparan, moderator membuka sesi diskusi tanya jawab dan mempersilahkan peserta untuk memberikan tanggapan. Dalam sesi diskusi terdapat 3 tanggapan, berupa pertanyaan yang disampaikan oleh peserta diskusi. Setelah sesi diskusi tanya jawab , dilakukan pembahasan mengenai studi kasus yang sudah disediakan bersangkutan dengan tema dan dibahas dalam bentuk kelompok terdiri dari 3 kelompok. Setelah studi kasus dibahas per kelompok ,selanjutnya perwakilan kelompok memaparkan hasil diskusi kelompoknya. Setelah semua kelompok memaparkan hasil diskusinya , pembicara meluruskan atau memberi kesimpulan terkait studi kasus yang sudah dibahas. Setelah sesi studi kasus berakhir, moderator kemudian memimpin peserta untuk menyanyikan lagu pujian berjudul, “Sampai Akhir”. Setelah selesai menyanyikan lagu pujian, moderator kemudian mempersilahkan pembicara untuk memberikan closing statement, dan kemudian moderator menutup Penelaahan Alkitab kali ini dengan memberikan kesimpulan dan mempersilahkan pembicara untuk membawakan doa penutuP.
Menciptakan Surga di Hati dan di Bumi
- Memahami dan Memaknai Sorga
Apa itu Sorga?
Jikalau melihat definisi KBBI, sorga itu dipahami sebagai suatu tempat/kediaman (alam) akhir yang membahagiakan roh setiap orang yang hendak tinggal di dalamnya. Bersifat berbanding terbalik seperti di bumi yang fana, atau terbatas, melainkan berbicara tentang “keabadian”. Memahami secara sederhana dari definisi KBBI ini menjelaskan bagi kita bahwa sorga itu merupakan suatu tempat yang menjadi tujuan akhir manusia dalam memperoleh kebahagiaan yang abadi.
Alkitab Mendefinisikan Sorga
Di dalam Alkitab sorga sering dikonotasikan sama dengan Allah. Berbicara tentang sorga, ujung-ujungnya berbicara tentang Allah. Itu sebabnya, dalam teologi Matius, dalam penulisannya perihal pembicaraan kerajaan Allah, menjadikan istilah “sorga” sebagai alternatif yang merujuk kepada Allah. Itu memberikan penekanan yang sama bahwa istilah kerajaan Sorga, sama halnya menceritakan tentang kerajaan Allah. Sorga juga dipahami sebagai tempat berdiam atau bersemayamnya Allah dan para malaikat-Nya. Bagi para nabi dan Perjanjian Baru, sorga ini menjadi suatu “pengharapan tentang kehidupan setelah kematian”.
Konsep atau pemahaman tentang sorga ini, benar adanya namun dalam prinsip hendak menjelaskan tentang kedaulatan, kemahakuasaan, dan kebesaran Allah yang tidak bisa dibatasi oleh siapapun. Dan yang benar-benar berkuasa atas semua ciptaan, hingga kepada soal kehidupan. Sorga semata-mata telah menjadi suatu penghargaan, penghormatan, bahkan hadiah atas pencapaian dari kesetiaan iman, dan panggilan sebagai yang mengikuti dan mempercayai Allah.
Namun, sering menjadi kesalahpahaman yang terus dikembangkan dan diberitakan, akhirnya membangun suatu karakter keegoisan dari setiap orang percaya tentang tujuan pencapaian sorga. Sorga menjadi pencapaian setiap orang, tidak lagi menurut tanggung jawab dan panggilan iman bagi dunia, melainkan hanya soal-soal kehidupan moral dan kesalehan pribadi. Beribadah, berdoa, bernyanyi, dll. utamanya, hanya menjadi persoalan urusan personal, bukan lagi kolektif.
George Pixley Memaknai Kerajaan Sorga (Allah)
Ada beberapa pokok penting yang hendak kita lihat dari pemikiran George V. Pixley tentang “Kerajaan Allah” yang membongkar suatu ide-ide tentangnya dalam konsep Kultus, Politik, Kultus, dan Sosial Kemasyarakatannya. Paling awal, Pixley melihat dalam pergumulannya di Amerika tentang khotbah-khotbah perihal kerajaan Allah melulu hanya soal urusan yang akan datang setelah kematian, urusan-urusan individu di keabadian, dan urusan-urusan kebahagiaan dalam kekelalan, yang pada akhirnya cenderung digiring untuk kepentingan orang-orang tertentu, bahkan tidak peduli atas kepentingan historis sosial kekinian, dari segala persoalan-persoalan kemanusiaannya. Bagi Pixley, istilah kerajaan Allah, merupakan proyek historis sosial keagamaan untuk membangun kehidupan kemasyarakatan yang lebih baik, adil, dan sejahtera. Demikianlah harusnya iman itu berfungsi di tengah-tengah realitas yang kacau, dan jahat ini.
Kerajaan Sorga (Allah) dalam Perspektif Poskolonial
Perhatian atas kerajaan Sorga (Allah) dalam perspektif ini hendak melihat bahwa kehadiran istilah kerajaan Allah dalam perspektif poskolonial merupakan konsep tiruan dari kerajaan atau kemaharajaan Romawi (the empire of Rome) namun untuk menentangnya. Ketika, dalam ukuran kekaisaran Romawi bahwa kekaisaran Romawi merupakan kemaharajaan yang dari akan menciptakan kesejateraan sosial di bawah kekaisarannya, sehingga mereka sangat gencar-gencar memperluar wilayah kekuasaannya mereka hingga di segala penjuru bumi. Dan mengklaim merekalah melalui para kaisar dianggap sebagai “juruselamat” atas semua manusia
Namun itu berbanding terbalik dari fakta yang dijalani oleh umat Allah di zaman Yesus. Kesejahteraan hanya dimiliki oleh elit kekuasaan kaisar. Kemiskinan mencapai 97 persen, sisanya yang kaya, yaitu orang yang berada dekat dengan kekuasaan, pemilik tanah, dan para aliansi Romawi, termasuk di dalamnya kerajaan Herodes, dan para imam di Bait Allah. Semuanya itu memicu dan menciptakan kekacauan hingga sampai kepada tingkat krisis kemanusiaan.
Kerajaan Allah yang diproklamasikan Yesus, dan kehadiran Yesus menjadi perwujudan atau manifestasi dari kerajaan Allah itu sendiri. Kerajaan Allah hadir sebagai fungsi kritik, dan oposisi atas semua pihak yang menciptakan krisis kemanusiaan itu. Itu sebabnya, Yesus menentang Roma, Herodes, dan juga para kaum rohaniawan di zaman-Nya. Pelayanan, pengajaran, dan berbagai mujizat menjadi pembuktian. Itu memperlihatkan bahwa Yesus ramah dan aktif atas penentangan serta kritik-Nya atas kejahatan, dan penindasan yang diciptakan itu.
Salib Yesus sebagai resiko atas perjuangan dan perlawanan-Nya terhadap kejahatan, penindasan, dan kekerasan. Sehingga, melalui salib itu membuktikan bahwa setiap orang yang mengikut Yesus adalah warga kerajaan Allah. Untuk itu, kerajaan Allah yang menentang kejahatan, penindasan, dan kekerasan, memaksudkan juga semua pihak yang menjadi bagian dari kemayarakatan Allah untuk menentang dan melawan kejahatan, penindasan, dan kekerasan itu.
Menciptakan Sorga di Hati dan di Bumi
Menghadirkan atau menciptakan “Kerajaan Sorga” berarti menghadirkan suatu suasana yang sorga, yaitu di mana di dalam suasana itu, tidak ada air mata, penindasan, ketidakadilan dan bentuk kejahatan yang sejenisnya. Dengan demikian sorga tidak hanya menjadi bayangan yang samar-samar, tak terasa dan impian semata, melainkan menjadi realita yang dirasakan oleh banyak orang. Hal itulah yang Yesus ajarkan untuk kita lakukan, sebagai murid-murid-Nya, yaitu menemukan dan melakukan Kerajaan Allah. Mari memahami dan memaknai bahwa kita yang mengikut Yesus, merupakan agen dalam kemasyarakatan Allah (kerajaan Allah). Salib Yesus menjadi bukti atas konsistensi dan loyalitas Yesus sebagai perwujudan kerajaan Allah untuk menciptakan kebaikan, keadilan, dan kedamaian, harus juga tampil untuk konsisten dan loyal dalam menentang berbagai tindak kejahatan, penindasan, serta dalam bentuk kekerasan yang mengakibatkan krisis kemanusiaan. Kerajaan Allah haruslah menjadi milik rakyat pinggiran, bukan elit semata.
Sama halnya seperti motivasi GMKI yaitu menghadirkan Syalom Allah, dalam artian menghadirkan kerajaan Allah/sorga, kader GMKI kita juga diharapkan mampu menciptakan sorga di hati dan di bumi yaitu dengan melanjutkan perjuangan Yesus untuk menciptakan kedamaian dan tidak sepakat akan kekerasan penindasan dan lainnya. Karena tujuan akhir hidup kita bukan serta merta untuk masuk surga, tetapi jika kita mengklaim sebagai pengikut Kristus kita mampu menghadirkan sorga lewat keberpihakan kita kepada Kristus lewat perilaku sehari-hari ataupun peduli kita terhadap lingkungan dan sesama.