Keramahan: Sarana Pelayanan dan Pemberitaan Injil

Tata Laksana

Penelaahan Alkitab 1 telah terlaksana pada hari Jumat, 1 November 2024 secara onside di Sekretariat Taktis GMKI FEB USU Jl. Rebab No.20. Penelaahan alkitab ini mengangkat tema tentang “ Keramahan: Sarana Pelayanan dan Pemberitaan Injil” yang dibawakan oleh Pdt.Sofyan M.B Pane. Penelaahan Alkitab 1 berlangsung mulai pukul 17.45 (mengalami keterlambatan selama 1 jam 15 menit) dan di hadiri oleh 38 anggota. Kegiatan ini di buka dengan doa oleh Yoni Panjaitan (Wakil Sekretaris Bidang Pendidikan Kader). Kemudian di lanjutkan dengan kata pembukaan oleh  Moderator yaitu Faivh Isaura Tiar Hutagalung (Wakil Sekretaris Bidang Kerohanian) dan di lanjutkan dengan pemaparan materi, kemudian diskusi tanya jawab dan yang terakhir di lanjutkan dengan doa penutup yang di bawakan oleh Yoni Panjaitan. Kemudian pada akhir kegiatan di lakukan  pengisian quesioner yang di bagikan oleh pengurus komisariat dan melakukan dokumentasi kegiatan.

 

Resume Materi

  • Pengantar

Sejarah perjalanan gereja sebagai Tubuh Kristus dalam memberitakan Injil telah menggunakan beranekaragam metode dalam menaati perintah Tuhan itu. Adapun ungkapan dari Tema GMKI yang di tetapkan di Kongres Toraja memperlihatkan bahwa tugas pemberitaan injil adalah suatu perintah yang harus di taati umat percaya bukan suatu tawaran yang bisa di turuti bila mau dan mampu atau di tolak bila sulit dan tidak mampu. Tuhan tidak memberikan perintah yang tidak bisa di kerjakan manusia. Pada Penelaahan Alkitab ini kita akan menggumuli aspek Keramahan yang telah di kenal sejak zaman PL dan PB sebagai sarana menyampaikan kasi allah. Secara khusus keramahan ini Nampak di dalam Tuhan Yesus Kristus yang kemudian di lanjutkan oleh para rasul dan umat percaya. Melalui keramahan maka kasih allah dapat tersebar dan di bagikan.

 

  • Apa yang di maksud dengan Ramah dan Keramahan?

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan RAMAH dengan baik hati dan menarik budi bahasanya; manis tutur kata dan sikapnya; suka bergaul dan menyenangkan dalam pergaulan. Dan mengartikan KERAMAHAN dengan sifat ramah; kebaikan hati dan keakraban (dalam bergaul).

Pada Roma 12:13 terjemahan Yunani kita akan menemukan kata philoxenia yang oleh Alkitab King James Version (KJV) diterjemahkan hospitality, sejatinya menekankan pada dua kata yang membentuk kata tersebut; philo (mengasihi) dan xenia (orang asing), yang pada akhirnya menjadi kata kunci dalam hospitalitas. Hal ini dapat kita perbandingkan dengan budaya pengajaran Yesus yang memiliki nada dasar yang sama sebagaimana dikisahkan dalam Luk. 10:25-37 perihal orang samaria yang murah hati (Good Samaritan).

Secara sederhana kita dapat menerjemahkan bahwa KERAMAHAN atau HOSPITALITAS adalah kemampuan seseorang untuk menerima orang lain tanpa didasari oleh asumsi apapun atau pun penilaian tertentu, layaknya orang asing yang tidak kita kenal namun kita dapat mengasihinya.

 

  • Apakah Hubungan antara Keramahan dengan Pemberitaan Injil?

Pemberitaan Injil tidaklah dapat diterjemahkan sebagai upaya Kristenisasi atau Proselitisme (usaha dari pihak luar untuk menarik seseorang masuk pada kelompok tertentu). Namun karena Injil bermakna Berita Sukacita, maka Pemberitaan Injil haruslah dipahami sebagai upaya mempertemukan manusia dengan TUHAN dalam hidupnya, melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Mengingat Pemberitaan Injil adalah upaya mempertemukan manusia dengan TUHAN, maka sudah seharusnya hal itu dilakukan dengan penuh keramahan. Kehadiran kitalah yang harus dimaknai sebagai sarana pelayanan yang membawa setiap orang pada pertemuannya dengan TUHAN.

Pada Ayat 9 dikatakan: “Hendaklah Kasih itu jangan pura-pura!”
“Hendaklah Kasih itu tulus ikhlas” (TB2). Kecenderungan manusia mengasihi adalah Conditional Love, sedangkan kecenderungan TUHAN mengasihi adalah Unconditional Love. Sehingga kasih yang berpura-pura (tulus ikhlas) yang dimaksud dalam teks ini menegaskan keberadaan manusia yang masih melakukan kecenderungan Conditional Love ketimbang kemauan belajar untuk melakukan Unconditional Love, apalagi ketika hal itu diperhadapkan dengan kenyataan dunia yang mengatakan: “no free lunch!”

Secara teologi, Martin Luther membahasakannya dengan INCURVATUS (sesuatu yang berbelok kepada dirinya sendiri). Suatu kenyataan yang menegaskan bahwa apa yang dikerjakan oleh manusia hanya berorientasi pada dirinya sendiri. Padahal dalam Ayat 2 setiap orang yang hidup di dalam TUHAN ditantang untuk tidak menjadi serupa dengan dunia, namun harus hidup dalam budaya (budi+daya) yang baru (berubahlah oleh pembaharuan budimu).Kenyataan inilah yang membuat kita kadangkala jenuh untuk melakukannya, bahkan mungkin pada pencapaian titik jenuhnya kita akan memilih untuk mundur dan tidak ingin mengerjakannya lagi. Oleh karena itu pada bagian selanjutnya disampaikan kepada kita.

Pada Ayat 11 dikatakan: “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah TUHAN.” Jikalau yang kita layani adalah manusia, maka tentu kita akan mengalami kekecewaan dikala respon atas pelayanan atau keramahan kita tidak seperti yang kita bayangkan. Oleh karena itu teks ini menegaskan bahwa yang sesungguhnya harus kita layani adalah TUHAN. Ditegaskan pula dalam Kolose 3:23 yang mengatakan: “Apa pun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk TUHAN dan bukan untuk manusia.” Tentu saja tidak mudah untuk melakukan hal ini, namun tidak juga harus dimaknai menjadi suatu pekerjaan yang tidak mungkin. Bahkan kadangkala keputusan kita untuk tetap “on the track” akan menyakiti kita atau akan membawa kita pada penderitaan yang tidak terhindarkan (ANFECHTUNG) sehingga tidak ada yang dapat kita lakukan selain dari pada: Pada Ayat. 12 dikatakan: “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan (penderitaan) dan bertekunlah dalam doa!” Sesungguhnya tidak ada jaminan yang pasti akan kita dapatkan atas apa yang telah kita lakukan ini. Namun berangkat dari gagasan dalam 2 Korintus 12:9 yang mengatakan: “Cukuplah kasih karunia-Ku (anugerah-Ku) bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Memperlihatkan kepada kita bahwa kehadiran kita di dunia ini pun adalah sebagai orang asing yang hanya bisa berserah penuh kepada TUHAN. Tidak ada yang dapat kita andalkan (entah itu fasilitas yang kita dipercayakan kepada kita, kemampuan yang dititipkan TUHAN kepada kita atau pun keberadaan orang-orang yang mengasihi kita yang berada disekitaran kita) selain daripada TUHAN sendiri yang akan menuntun perjalanan kehidupan kita.

 

Kesimpulan

KERAMAHAN hanya mungkin terjadi jikalau kita menyadari bahwa kita adalah orang asing yang senantiasa bertemu dengan orang asing lainnya (kita adalah sesama orang asing yang berada pada ruang dan waktu yang sama). Pelayanan yang kita lakukan adalah respon atas kasih TUHAN yang telah kita terima dan alami dalam hidup kita yang kemudian kita teruskan kembali kepada orang asing lainnya dengan pengharapan agar mereka pun dapat bertemu dan merasakan kasih TUHAN itu sendiri.

RESUME PENELAAHAN ALKITAB 1

0 0 vote
Article Rating