Badai Inflasi dan Kompas Baru Mahasiswa dalam Mengelola Uang
By: Wilson Purba
Tekanan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir semakin terasa bagi mahasiswa. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa inflasi Indonesia berada di kisaran 3–4%, sementara nilai tukar rupiah sempat melemah hingga sekitar Rp16.000–Rp16.800 per USD menurut laporan Bank Indonesia. Kondisi ini mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok, transportasi, hingga perangkat teknologi yang menjadi penunjang aktivitas kuliah.
Situasi tersebut membuat pola konsumsi mahasiswa perlu berubah. Pengeluaran yang bersifat impulsif atau tidak prioritas menjadi semakin berisiko bagi stabilitas keuangan mahasiswa. Oleh karena itu, mahasiswa perlu mulai menerapkan pola pengelolaan keuangan yang lebih rasional dan terencana.
Salah satu pendekatan yang relevan adalah konsep frugal living. Prinsip ini menekankan pengelolaan keuangan secara efisien dengan memprioritaskan kebutuhan utama dan memaksimalkan nilai dari setiap pengeluaran. Menurut kajian Organisation for Economic Co-operation and Development, perilaku finansial yang disiplin dapat meningkatkan ketahanan individu dalam menghadapi tekanan ekonomi.
Selain itu, penerapan frugal living juga berkaitan dengan literasi keuangan generasi muda. Survei dari Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia masih sekitar 49,68%.Karena itu, membangun kebiasaan pengelolaan keuangan yang bijak sejak mahasiswa menjadi langkah penting untuk menciptakan kemandirian finansial di masa depan.
Opini (Unduh)