Frugal Living di Tengah Peningkatan Inflasi
By: Revelina Situmorang
Peningkatan inflasi dan nilai tukar rupiah yang semakin menurun menjadi permasalahan ekonomi yang masih dialami di Indonesia hingga saat ini. Harga kebutuhan pokok, transportasi, pendidikan, dan penggunaan teknologi semakin menjadi kebutuhan. Kondisi ini memberi tekanan pada keuangan termasuk bagi mahasiswa.
Pola konsumsi masyarakat yang buruk perlu dievaluasi. Banyak mahasiswa yang mengikuti gaya hidup yang sesuai keinginannya bukan kebutuhannya. Mahasiswa harus lebih selektif dalam menggunakan keuangan agar keuangan terkelola dengan baik.
Dalam era inflasi yang semakin meningkat, Frugal Living menjadi salah satu pilihan gaya hidup yang dapat diterapkan mahasiswa. Mahasiswa dapat menerapkan gaya hidup hemat dengan memprioritaskan kebutuhan utama dan menghindari pemborosan terutama gaya hidup berlebih hanya untuk mendapat pengakuan dari orang lain.
Manfaat utama penerapan Frugal Living bagi mahasiswa termasuk:
1. Terkelolanya keuangan dengan efektif dan menghindari pemborosan dan
konsumsi impulsif.
2. Mendorong kebiasaan membuat anggaran dan dana darurat.
3. Melatih kemandirian finansial mahasiswa.
Dalam keadaan ekonomi saat ini, frugal living menjadi strategi adaptasi keuangan. Kenaikan biaya hidup membuat mahasiswa perlu memikirkan ulang cara mengelola keuangan. Namun, frugal living tidak menjadi solusi semata di era ini. Kebijakan ekonomi yang baik tetap perlu dijalankan untuk menjaga stabilitas dan daya beli masyarakat.
Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk cerdas secara akademik, namun juga harus bijak dalam mengelola keuangan. Kesadaran finansial harus segera ditanamkan terutama di era inflasi yang terus meningkat. Era inflasi menjadi tantangan sekaligus tempat mahasiswa belajar mencari solusi keuangan. Frugal living tidak menjadi satu-satunya solusi namun berdampak secara langsung bagi pengelolaan keuangan mahasiswa.
OpiniĀ (Unduh)