Buruh Sang Jantung Ekonomi Bangsa

Faivh Hutagalung’Ep22

Setiap pagi, suara mesin menyala. Sepatu keselamatan dikenakan. Seragam kerja dikenakan bukan demi gaya, tapi demi bertahan hidup. Di balik layar kemegahan pembangunan, grafik ekonomi yang menanjak, dan laporan laba perusahaan yang terus membesar—ada jutaan buruh yang bekerja nyaris tanpa jeda.

Mereka bukan tokoh utama dalam pidato pejabat. Mereka tak masuk headline kecuali saat demo. Tapi merekalah jantung ekonomi bangsa ini. Tanpa mereka, tak akan ada gedung berdiri, makanan tersaji, pakaian dijual, atau kereta berjalan. Namun ironisnya, mereka kerap diperlakukan bukan sebagai manusia, melainkan sebagai alat produksi yang bisa diganti sewaktu-waktu.

Di negeri yang katanya menjunjung tinggi keadilan sosial, buruh masih dipaksa lembur demi upah minimum. Mereka berhadapan dengan sistem kerja kontrak yang rapuh, outsourcing yang tidak berpihak, dan jaminan sosial yang hanya manis di atas kertas. Bicara soal kesejahteraan? Masih sebatas slogan di baliho pemerintah.

Padahal, jika ekonomi adalah tubuh, maka buruh adalah jantungnya—yang terus berdetak tanpa henti, memompa kehidupan ke seluruh sistem. Tapi apa jadinya jika jantung ini terus dipaksa bekerja tanpa asupan, tanpa istirahat, tanpa perhatian? Ia akan melemah. Ia bisa gagal.

Buruh bukan hanya korban sistem. Mereka adalah manusia yang punya akal, rasa, dan harga diri. Banyak dari mereka lebih paham soal keadilan daripada mereka yang duduk di kursi empuk. Mereka tidak hanya bekerja; mereka berjuang. Tapi perjuangan mereka sering dibenturkan dengan stigma: pengganggu ketertiban, pengacau stabilitas, atau bahkan dianggap anti-kemajuan. Padahal, siapa yang sesungguhnya mengacaukan keadilan?

Sebagai mahasiswa—yang katanya agen perubahan kita tidak boleh sekadar jadi penonton dari panggung ketidakadilan ini. Kita harus menyadari, bahwa perjuangan buruh adalah juga perjuangan rakyat. Bahwa saat buruh diperjuangkan, kita sedang memperjuangkan
hak dasar manusia: hidup layak.

Buruh bukan beban. Mereka bukan sekadar “faktor produksi”. Mereka adalah pemilik sah dari peluh yang membangun negeri ini. Mereka adalah wajah sejati dari kerja keras Indonesia.

 

Narasi ( Unduh )

0 0 vote
Article Rating