“ANTARA WACANA DAN BAKTI NYATA”
by: NN
Kita hidup di era di mana “rencana” seringkali dianggap sebagai “pencapaian”. Kita merasa sudah, melakukan sesuatu hanya karena kita telah menuliskannya di buku aģenda, mengunggahnya di media sosial, atau mendiskusikannya dengan berapi-api di ruang rapat mahasiswa. Kita sering terjebak dalam euforia menyusun resolusi, namun kehilangan tenaga saat tiba waktunya untuk mengeksekusi.
Sebagai mahasiswa, kita sering mendoakan Indonesia agar menjadi lebih baik. Kita membuat program kerja yang megah untuk masyarakat. Namun, seringkali doa dan rencanar itu berhenti di bibir saja. Kita lupa bahwa Tuhan tidak hanya memanggil kita untuk menjadi pemimpi, tetapi menjadi pelaku.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita dalam Yakobus 2:17: “Demikian juga halnya dengan imán: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada dasarnya adalah mati.”
Ayatini sangat keras dan lugas. Iman atau dalam konteks kita, niat dan . resolusi jika tidak diikúti dengan langkah nyata, hanyalah sebuah “bangkai. la tidak bernapas, tidak bergerak, dan tidak memberikan dampak apa pun bagi sekitar.
Tuhan tidak memanggil kita untuk sekadar memiliki daftar resolusi yang sempurna. Dia memanggil kita untuk setia pada langkah-langkah kecil. – Indonesia tidak akan berubah hanya dengan teori yang kita susun di skripsi atau janji-janji dalam orasi. Indonesia berubah ketika kita mulai melakukan bagian kita secara nyata: mulai jujur dalam ujian, mulai peduli pada lingkungan sekitar, dan mulai mengulurkan tangan bagi mereka yang membutuhkan tanpa menunggu momen yang “tepat”.
Mari kita renungkan:
Apakah selama ini kita lebih sibuk membangun “menara rencana” daripada “jembatan aksi”? Mari kita kurangi kebisingan kata-kata dan perbanyak keheningan kerja nyata. Sebab pada akhirnya, Tuhan dan bangsa ini tidak akan bertanya seberapa banyak resolusi yang kamu buat, melainkan seberapa banyak kasih yang telah kamu wujudkan dalam perbuatan.
Renungan ( Unduh )