Kasih Terbesar dalam Pengorbanan
By: Novena Ho Abigail (Akt’23)
Rela berkorban di sini berarti memahami bahwa masa muda kita bukan hanya untuk memperkaya diri sendiri dengan gelar, melainkan untuk memperkaya sesama dengan kehadiran kita. Inilah pengorbanan “waktu produktif” yang Tuhan hargai. Yang biasanya ketika pulang kampus kita langsung pulang kekost masing-masing, namun kini kita harus melayani sesama dan saling memberikan kabar sulacita. “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:45).
Kita saat ini bukan hanya mengorbankan waktu saja, namun kita juga sering mengorbankan materil dan non materil, bahkan terkadang nilai diperkuliahan. Serta kita diajarkan untuk mengorbankan ego kita serta mengorbankan hal-hal yang membuat kita senang, dan memilih untuk melayani sesama. Yesus memberikan nyawa-Nya sebagai “tebusan”. Sebagai kader, apakah kita rela memberikan kenyamanan kita sebagai “tebusan” agar keadilan bisa dirasakan oleh sesama kita di kampus maupun di masyarakat.
Renungan ( Unduh )