Buruh adalah Pondasi Bangsa
By: Reisa Rajagukguk (Mnj’24)
“Buruh adalah Pondasi Bangsa” bukanlah sekadar retorika usang dalam aksi demonstrasi, melainkan sebuah realitas sosiologis yang mendasar. Setiap derap pembangunan, mulai dari infrastruktur megah hingga stabilitas rantai pasok harian, bersandar sepenuhnya pada dedikasi dan keringat para pekerja. Mereka adalah penggerak roda ekonomi yang paling esensial; tanpa kontribusi kelas pekerja, visi kemajuan sebuah negara hanyalah blueprint diam yang tidak akan pernah terealisasi. Oleh karena itu, mengakui buruh sebagai pondasi berarti memahami bahwa ketahanan nasional kita sangat bergantung pada kesejahteraan dan perlindungan hak-hak mereka.
Namun, sangat ironis ketika kita melihat kenyataan bahwa sang “pondasi” seringkali dipaksa menanggung beban paling berat dengan proteksi yang paling rapuh. Mahasiswa, sebagai kaum intelektual, memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal kebijakan publik agar tidak mengeksploitasi tenaga kerja demi ambisi pertumbuhan angka semata. Perjuangan untuk upah yang layak, jaminan kesehatan, dan kepastian kerja adalah perjuangan untuk memperkokoh bangsa itu sendiri. Jika pondasinya dibiarkan retak oleh ketidakadilan sistemik, maka seluruh bangunan negara ini berada dalam risiko keruntuhan. Menghargai buruh adalah investasi terbaik untuk memastikan masa depan bangsa yang lebih tangguh dan bermartabat.
Opini ( Unduh )