“Kerajaan pondasi yang retак”
By: Yousev Lumbantobing (Akt’23)
Di sebuah hutan luas bernama nesia rimba, berdirilah sebuah kerajaan yang megah. Pohon-pohon tinggi menjulang, sungai mengalir deras, dan pasar selalu ramai. Namun, semua kemegahan itu sebenarnya ditopang oleh para semut pekerja, makhluk kecil yang tak pernah berhenti mengangkut makanan, membangun sarang, dan menjaga keseimbangan hutan. Raja singa sering berkata, “kerajaan ini kuat karena kita semua,” tetapi diam-diam, ia tahu bahwa tanpa para semut, semuanya akan runtuh. Suatu hari, badai besar datang, badai harga. Harga biji-bijian melonjak, buah-buahan menjadi langka, dan air mulai sulit didapatkan. Para semut yang biasanya rajin kini mulai kelelahan. Mereka tetap bekerja, tetapi hasil yang mereka bawa pulang tak lagi cukup. Seekor semut kecil bernama lini berkατα, “kita ini pondasi kerajaan, tapiι κεναρα κιta yang paling lapar?” semut lainnya hanya tertunduk. Mereka mulai mengurangi makan, bahkan ada yang berhenti menyekolahkan anak-anak semut untuk belajar membangun masa depan. Di sisi lain, para hewan besar seperti gajah dan harimau masih bisa bertahan. Mereka punya cadangan makanan. Namun mereka lupa satu hal yaitu cadangan itu tidak akan pernah bertambah tanpa kerja para semut. Hari demi hari, kerja semut melambat. Terowongan mulai runtuh. Persediaan makanan berkurang. Pasar hutan menjadi sepi. Akhirnya, raja singa menyadari sesuatu yang selama ini ia abaikan. Ia memanggil seluruh penghuni hutan dan berkata, “jika pondasi ini retak, maka kerajaan ini hanya tinggal menunggu runtuh.” ia pun mulai memperbaiki keadaan dengan cara membagi makanan secara adil, menurunkan beban kerja semut, dan memastikan mereka mendapatkan bagian yang layak. Perlahan, para semut kembali kuat. Terowongan diperbaiki. Pasar kembali hidup. Kerajaan nesia rimba pun berdiri kokoh lagi. Buruh kecil kerja tak henti, menopang roda negeri berjalan, jika pondasi mulai rapuh kini, runtuhlah semua tanpa harapan. *yang terlihat kecil sering kali adalah penopang terbesar. Jika mereka dibiarkan rapuh, maka yang besar pun tak akan mampu berdiri lama.
Opini ( Unduh )