Hidup Secukupnya, Bermakna Selamanya
By: Yousev Daniel Lumbantobing (Akt’23)
Mari Kilas balik beberapa waktu ke belakang, sudah berapa lama kita hidup dalam kondisi
ekonomi yang seperti ini? Beberapa jawaban mungkin bisa kita refleksikan untuk
pembahasan kedepannya.
Perlu kita tahu bahwa Indonesia hari ini 3.55 persen naik dari tahun sebelumnya yaitu 2.92
persen. Kenaikan harga barang pokok yang paling mencolok bisa kita rasakan bahkan biaya
transportasi dan teknologi yang terkesan makin mahal. Beberapa aspek tersebut langsung
berpengaruh bagi kehidupan kita sebagai mahasiswa yang membuat uang saku kita menjadi
sangat terbatas karena kenaikan kenaikan ini. Ini merupakan realitas yang menunjukkan pola
konsumsi lama yang tidak lagi relevan bagi kita.
Mahasiswa sering terjebak dalam gaya hidup yang impulsif seperti membeli barang karena
hegemoni belaka khususnya karena kerap kali mengikuti gaya hidup media sosial yang
hedonistik. Ini yang menjadi tantangan kita dewasa ini, kita harus melihat secara detail untuk
membedakan antara memenuhi kebutuhan atau sekedar mengikuti keinginan. Sehingga
penting bagi kita untuk lebih dalam mengetahui tentang pentingnya kesadaran finansial
sejak dini agar menjadi bekal dalam setiap langkah berikutnya.
Frugal Living kerap kali dikemas dengan “Pelit” bukan dikenal dengan cermatnya kita
memanajemen keuangan pribadi. Frugal Living adalah hal yang menjadi titik dasar kita untuk
fokus pada prioritas dan valuasi dari uang itu sendiri. Sehingga, Frugal Living ini bahkan
pengetahuan untuk mengurangi pemborosan namun juga tidak mengurangi kualitas hidup
kita sebagai mahasiswa dan sebagai anak di tengah keluarga.
Bentuk penerapan nyata yang paling kita harus mulai adalah menyusun anggaran bulanan
untuk setiap kegiatan dan kebutuhan ke depannya, mengurangi pengeluaran yang impulsif
seperti nongkrong yang berlebihan dan belanja hanya sesuai tren saja. Perihal dana darurat
yang harus juga menjadi titik fokus untuk setiap perencanaan penanganan risiko yang ada.
Beberapa cara juga dapat dibuat dengan memanfaatkan diskon yang ada, ikut beasiswa
untuk mendapatkan pengalaman dan uang saku serta penghematan pemakaian kendaraan
pribadi dan memakai kendaraan umum untuk mencegah pengeluaran yang kurang menjadi
urgensi.
Frugal Living membentuk kita untuk latihan kedisiplinan mengelola keuangan serta tanggung
jawab. Hal ini juga membantu kita membentuk kemandirian finansial sejak mahasiswa dan
menjadi strategi utama bertahan dalam ketidakpastian ekonomi. Namun pada dasarnya,
Frugal Living ini bukanlah solusi tunggal untuk setiap masalah ekonomi yang ada di tengah
tengah kita, perlu pula kebijakan ekonomi dari pemerintah tingkat atas untuk mengatasi
masalah yang ada saat ini. Jangan sampai gaya hidup frugal living ini menjadi pembenaran
untuk menormalisasi kesulitan ekonomi mahasiswa saat ini.
Frugal Living haruslah menjadi pilihan yang diambil secara sadar bukan karena keterpaksaan
belaka. Kita sebagai mahasiswa harus cerdas secara finansial yang menandakan kita adalah
“Agent of Change” ditengah tengah masyarakat. Hidup sederhana hari ini adalah untuk masa
depan yang lebih stabil, dapat ditinjau risiko serta tanggap dalam setiap masalah yang
mungkin akan datang nantinya khususnya di bidang ekonomi.
Opini ( Unduh )