FRUGAL LIVING DI ERA INFLASI

By: Triputri Septiani Sihotang (AKt’24)

Frugal living sering kali disalahartikan sebagai gaya hidup yang pelit atau hidup dalam keterbatasan. Padahal, makna sebenarnya dari frugal living adalah bagaimana seseorang mampu menggunakan sumber daya yang dimilikinya dengan bijak dan penuh pertimbangan. Bagi mahasiswa, hal ini berarti belajar membedakan mana yang benar-benar kebutuhan dan mana yang hanya sekadar keinginan. Dengan cara ini, mahasiswa dapat menghindari pengeluaran yang tidak perlu dan lebih berhati-hati dalam menggunakan uang yang dimiliki.

Dalam kehidupan orang percaya, sikap bijaksana dalam mengelola berkat sebenarnya sudah lama diajarkan dalam Alkitab. Salah satunya terdapat dalam Amsal 21:20 yang mengatakan, “Harta yang indah dan minyak ada di kediaman orang bijak, tetapi orang yang bebal memborosnya.” Ayat ini mengingatkan bahwa kebijaksanaan seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya harta yang dimiliki, melainkan dari bagaimana ia mengelola dan menggunakan apa yang Tuhan percayakan kepadanya.

Bagi mahasiswa, menerapkan frugal living tidak harus dimulai dengan hal yang besar. Langkah sederhana seperti membuat rencana pengeluaran bulanan, mengurangi kebiasaan membeli sesuatu secara spontan, memanfaatkan barang yang masih layak digunakan, hingga mulai menyisihkan uang untuk tabungan atau dana darurat sudah merupakan bentuk penerapan gaya hidup ini. Jika dilakukan secara konsisten, kebiasaan kecil tersebut dapat membentuk sikap disiplin dan membantu mahasiswa menjadi lebih mandiri secara finansial.

Pada akhirnya, mahasiswa yang bijak bukan hanya mereka yang berprestasi di bidang akademik, tetapi juga mereka yang mampu menjalani kehidupan dengan penuh hikmat. Dengan menerapkan prinsip frugal living, mahasiswa dapat lebih siap menghadapi tantangan ekonomi sekaligus belajar hidup sederhana, bertanggung jawab, dan selalu bersyukur atas setiap berkat yang diterima

Opini ( Unduh )

0 0 vote
Article Rating