KASIH DAN BUDAYA LELAH YANG DINORMALISASI

By: Wilson Purba (Akt’23)

Hari ini, pengorbanan sering dianggap sebagai ukuran utama kasih. Di media sosial, orang bangga menunjukkan kerja tanpa henti, jadwal padat, dan kesiapan membantu siapa saja. Di kampus dan tempat kerja, burnout menjadi fenomena yang semakin umum, namun tetap dianggap wajar. Banyak orang tua memaksakan diri bekerja keras meski kesehatan menurun, sementara mahasiswa dan pekerja muda merasa bersalah jika beristirahat. Kita hidup dalam budaya yang memuji ketahanan, tetapi lupa mengajarkan perawatan diri.

Akibatnya, stres, kecemasan, dan kelelahan emosional menjadi bagian dari keseharian. Budaya “tidak enakan” membuat orang sulit berkata tidak, walau kapasitasnya sudah habis. Istilah seperti “quiet quitting” muncul sebagai tanda bahwa banyak orang sebenarnya sudah lelah, hanya saja tetap bertahan karena tekanan sosial dan ekonomi. Pengorbanan yang seharusnya lahir dari kasih, perlahan berubah menjadi kewajiban yang memaksa.

Menurut saya, sudah saatnya kasih dimaknai secara lebih sehat. Mengasihi diri sendiri bukanlah egoisme, melainkan fondasi agar kita mampu memberi dengan utuh. Berani beristirahat, menjaga kesehatan mental, dan menetapkan batasan adalah bentuk tanggung jawab, bukan kelemahan. Sebab kasih yang benar bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban, tetapi tentang bagaimana kita tetap utuh saat memilih untuk memberi.

Opini ( Unduh )

0 0 vote
Article Rating