Kebangkitan Membawa Harapan

Emy Aurelia Ginting Akt’23

Dalam perjalanan hidup sebagai mahasiswa, kita bagaikan perahu kecil yang mengarungi samudera luas. Terkadang ombak datang silih berganti. Banyak tuntutan akademik, tekanan hidup, maupun pergumulan batin yang diam-diam menggerus semangat. Tidak jarang kita
merasa karam di tengah lautan karena kecemasan dan kelelahan yang kita rasakan.

Namun, di saat dunia terasa gelap dan langkah kehilangan arah, cahaya kebangkitan Kristus menyapa seperti fajar yang mengusir malam. Dalam 1 Korintus 15:20 tertulis, “Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari
orang-orang yang telah meninggal.” Ayat ini bukan sekadar pengingat sejarah, tetapi nyala api harapan yang menyentuh hati manusia hingga hari ini.

Hari Paskah menjadi bukti Kebanngkitan Kristus, dimana batu terguling bukan hanya dari kuburNya, melainkan juga dari hati yang tertutup oleh putus asa. Seperti benih yang mati untuk bertumbuh menjadi tunas yang baru, demikian pula kita dipanggil untuk bangkit dari kejatuhan, dari rasa tidak mampu, dari mimpi yang sempat layu oleh waktu.

Menjadi mahasiswa bukan hanya soal mengejar gelar, tetapi juga membentuk karakter, mengasah iman, dan mencari makna. Dalam proses ini, kita tak jarang menghadapi kegagalan, kebimbangan, bahkan kesendirian. Tetapi seperti tertulis dalam Mazmur 30:6, “Sesungguhnya,
murka-Nya adalah sesaat saja, tetapi kemurahan-Nya seumur hidup; pada waktu petang ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai.”

Itulah janji kebangkitan yang diberikan kepada kita. Malam tak selamanya kelam, dan pagi selalu datang membawa harapan. Maka, marilah kita bangkit. Bangkit bukan karena kuat dan hebatnya diri, tetapi karena kasih yang membangkitkan itu kini tinggal di dalam kita. Kita adalah anak-anak terang yang dipanggil untuk tetap berdiri, meski dunia mencoba membuat kita jatuh. Sebab harapan yang sejati bukan berasal dari apa yang kita lihat, melainkan dari siapa yang telah bangkit dan hidup dalam kita.

 

Renungan ( Unduh )

0 0 vote
Article Rating