Bukan Soal Pekerjaan, tetapi soal Kemanusiaan
Emy Ginting’Akt23
Pernah tidak kita berhenti dan berpikir sejenak, siapa sebenarnya sosok yang menjahit pakaian kita? Siapa yang membangun jalan yang kita lewati setiap hari? Siapa yang memungut sampah yang kita buang sembarangan?
Mereka adalah buruh, orang-orang yang bekerja dari pagi hingga petang. tanpa penghargaan yang layak bahkan sering disepelekan karena hanya dianggap sebagai pekerja kasar. Sedangkan, sebagian dari kita sibuk mengejar mimpi, belajar di ruang kuliah yang nyaman, lalu bercita-cita menjadi “orang besar”. Kita mudah memuja pengusaha yang terlihat sukses, namun enggan menghargai para pekerjanya. Kita lupa, bahwa di balik semua kenyamanan yang kita nikmati, ada peran besar dari para buruh. Merekalah yang bekerja paling keras, meneteskan keringat, bahkan tidak jarang terluka. Namun kenyataannya, justru mereka pula yang hidupnya paling sederhana.
Buruh bukan hanya soal pekerjaan, tapi soal manusia yang punya keluarga, harapan, dan rasa lelah. Mereka juga butuh istirahat yang cukup, upah yang adil, dan yang paling penting rasa dihargai.
Beberapa isu terkini tentang buruh yaitu, kebijakan outsourcing (tenaga alih daya), pembentukan satuan tugas pemutusan hubungan kerja (satgas PHK), upah yang layak, dan RUU (Rancangan Undang-Undang) Ketenagakerjaan yang baru.
Sebagai mahasiswa, kita punya pilihan. Cuek dan hanya peduli pada urusan sendiri, atau mulai membuka mata, hati, dan pikiran. Kita bisa memilih untuk peduli melalui cara kita berpikir, berbicara, dan bersikap, atau bahkan bersama menyuarakan keadilan.
Mereka memang bekerja untuk hidup, tapi jangan lupa bahwa kita bisa hidup karena mereka bekerja.
Narasi ( Unduh )