EKONOMI DIGITAL : PANGGUNG BARU BAGI GENERASI MUDA
By: Novena Ho Abigail (Akt’23)
Perubahan besar sedang berlangsung di depan mata kita. Ekonomi digital sudah tidak menjadi asing lagi kita dengar, namun tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dengan akses internet yang sudah menjangkau lebih dari 79% masyarakat, ruang digital berubah menjadi tempat baru untuk belajar, bertransaksi, bahkan mencari sumber pendapatan. Prediksi bahwa nilai ekonomi digital Indonesia bisa mencapai USD 130 miliar pada 2025 menunjukkan seberapa cepat arah ekonomi bangsa bergerak.
Di tengah arus perubahan ini, generasi muda memegang peran yang besar. Saat ini pertumbuhan ekonomi sudah tumbuh dengan begitu cepat, sehingga kita perlu beradaptasi dijaman ini. Mulai dari usaha kecil berbasis media sosial, bisnis kreatif, hingga startup yang digerakkan oleh anak muda, semuanya membuktikan bahwa ruang digital membuka pintu peluang bagi siapa saja yang mau mencoba. Lonjakan penggunaan QRIS hingga lebih dari 170% pada 2025 juga memperlihatkan bahwa cara anak muda bertransaksi sudah berubah total.
Namun, peluang besar selalu datang dengan lantangan. Tidak semua pemuda memiliki literasi digital dan literasi keuangan yang memadai untuk bersaing di ruang digital yang semakin padat dan global. Teknologi memang memberi ruang, tetapi tanpa kemampuan memahami risiko keamanan data, etika digital, dan manajemen informasi, kita bisa tertinggal di balik layar. Isu literasi digital dan literasi keuangan adalah tantangan serius yang beriringan dengan ketatnya kompetisi global.
Sebagai mahasiswa, kita bukan hanya memanfaatkan teknologi, tetapi juga memastikan bahwa diri kita dan orang-orang di sekitar kita mampu bersikap kritis terhadap perkembangan digital. Ekonomi digital tidak cukup dihadapi dengan semangat saja, namun perlu pengetahuan, keberanian berinovasi, dan kemampuan membaca arah perubahan yang lebih sesuai lagi.
Pada akhirnya, ekonomi digital bukan sekadar tren jangka pendek. Ini adalah panggung baru yang menentukan arah masa depan bangsa. Di era sekarang ini, generasi muda tidak seharusnya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta, penggerak, dan pemimpin di dalamnya.
Opini ( Unduh )