Tata Laksana
Diskusi Tematis I telah terlaksana pada hari Jumat, 21 Oktober 2022 secara ofline di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Diskusi Tematis I ini mengangkat tema “Ketahanan Pangan Indonesia Ditengah Ancaman Krisis Dunia” yang dibawakan oleh Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Bapak Wahyu Ario Pratomo SE, M.Ec . Diskusi Tematis I berlangsung mulai pukul 16.05 WIB (mengalami keterlambatan selama 5 menit) dan dihadiri oleh 28 Anggota , Kegiatan ini dibuka dengan Doa oleh Rani Silalahi ( Biro Bidang Organisasi). Kemudian dilanjutkan dengan kata pembukaan oleh Moderator yaitu Jansen Vernando Sitohang (Wakil Sekretaris Bidang Pendidikan Kader) dan dilanjutkan dengan pemaparan materi, kemudian diskusi tanya jawab dan yang terakhir dilanjutkan dengan pengisian post test yang dibagikan oleh pengurus komisariat. Kemudian ditutup dengan Doa yang dibawakan oleh Utari Estetica Pane (Wakil Sekretaris Bidang Kerohanian) dan melakukan dokumentasi kegiatan.
Resume Materi
Ancaman Krisis Dunia
Banyak masyarakat takut, ekonomi RI akan anjlok. Kenapa ? Kinerja perekonomian global tengah menunjukkan fluktuasi akibat gejolak The Perfect Storm yang mampu meningkatkan risiko stagflasi dan resesi di berbagai negara di belahan dunia. Apa itu The Perfect Storm ? Perfect storm adalah badai yang terjadi sekaligus. Di tengah perlambatan ekonomi, disrupsi pasokan meningkat sehingga mendorong harga energi bertahan tinggi. Negara-negara besar Eropa pada masa sekarang ini sedang mengalami berbagai macam gejolak yang menerpa pada saat yang bersamaan. Tekanan inflasi global semakin tinggi seiring dengan ketegangan geopolitik, kebijakan proteksionisme yang masih berlangsung, serta terjadinya heatwave di beberapa negara. Inflasi di negara maju maupun emerging market meningkat tinggi, bahkan inflasi inti berada dalam tren meningkat sehingga mendorong bank sentral di banyak negara melanjutkan kebijakan moneter agresif.
Menurut data yang di rilis oleh IMF, negara berkembang tidak terlalu akan berdampak dengan ancaman krisis yang akan terjadi. Berbeda dengan negara-negara maju dimana mereka akan mengalami gejolak ketika krisis berlangsung. Bagaimana dengan Indonesia? Perlukah kita takut? “Ada 3 sektor yang pada hakikatnya tidak akan pernah sepi diantaranya food, water, and energy” Menurut Dosen Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Wahyu Ario Pratomo SE, M.Ec. Indonesia memiliki ketiga sektor tersebut bahkan sangat kaya akan ketiga hal tadi. Maka dari itu prospek ekonomi Indonesia tidak akan pernah mati atau kesulitan. Namun, bagaimana hal tersebut dapat memberikan dampak atau pengaruh bagi perekonomian Indonesia? Tentu perlu adanya pengelolaan yang tepat dan efisien dari pemerintah agar dapat menjadi sumber ekonomi yang kuat bagi Indonesia pada saat krisis yang mungkin akan terjadi atau dialami dunia dalam waktu dekat ini. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Agustus 2022 tercatat sebesar 4,69% (yoy) seiring dengan meningkatnya inflasi kelompok harga diatur Pemerintah (administered prices) yang sebesar 6,84% (yoy) dan inflasi inti yang menjadi 3,04% (yoy). Sementara itu, inflasi kelompok pangan bergejolak (volatile food) menurun menjadi 8,93% (yoy) sejalan dengan peningkatan pasokan dari daerah sentra produksi.
Ketahanan Pangan Nasional
Tingginya gejolak berbagai sektor di belahan dunia tersebut, berpotensi memicu lahirnya krisis, termasuk krisis pangan. Meski dalam sikap waspada, Jokowi menyebutkan ancaman bisa berubah menjadi peluang bagi Tanah Air, sebab memiliki lahan pertanian yang luas. Untuk mengantisipasi adanya krisis pangan, Presiden meminta pemerintahannya untuk meningkat produksi pangan, sehingga tidak bergantung pada produk impor. Terdapat 4 hal penting dalam hal ketahanan pangan, diantaranya:
- Affordability : Kemampuan memiliki sumber daya, secara ekonomi maupun fisik, untuk mendapatkan bahan pangan.
- Availability : Ketersediaan sejumlah pangan yang cukup bagi memenuhi kebutuhan dasar.
- Quality and Safety : kemampuan dalam menyediakan produk makanan yang memiliki nutrisi dan aman untuk dikonsumsi.
- Sustainability and Adaptation : Keberlanjutan ketersediaan pangan melalui kebijakan yang mendukung dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.
Beberapa faktor pengancam ketahanan pangan di dunia, seperti Konflik antar negara (perang Rusia – Ukraina), Perubahan Cuaca (kekeringan, banjir), Penyakit berbahaya (Covid-19), Lonjakan biaya produksi (harga BBM) dan Bencana alam (kekeringan, banjir) meningkat signifikan pada abad ke-21. Pada saat ini ketahanan pangan Indonesia secara keseluruhan di dunia berada ranking 63. Tentu bukan posisi yang baik mengingat besarnya peluang produksi yang dapat di optimalkan oleh negara.
Besarnya nilai impor bahan makanan yang dilakukan pemerintah Indonesia mengakibatkan adanya persaingan yang terjadi antara produksi lokal yang rata-rata memiliki harga yang relatif lebih mahal dari bahan pangan yang diimpor tersebut. Bahan pangan yang memiliki nilai impor paling besar yang ada di Indonesia diantaranya gandum, kedelai fermentasi, gula, bawang putih, jagung, dan kedelai. Perlu adanya disetifikasi bahan pangan dan produksi pangan yang ada di Indonesia agar tidak ada impor yang besar terhadap salah satu bahan pangan. Hal ini penting karena mengingat perang Rusia-Ukraina yang masih akan terus berlanjut akan memberikan dampak terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi dan harga pangan dan energi yang diperkirakan akan terus mengalami kenaikan selama perang belom usai.