“PONDASI DITENGAH BADAI”

By: Novena Ho Abigail (Akt’23)

 

Seringkali kita melihat gedung pencakar langit atau angka pertumbuhan ekonomi yang megah, namun lupa bertanya siapa yang menyangga bebannya. Di tahun 2026, saat Indonesia diterpa “Badai Harga” akibat volatilitas nilai tukar Rupiah yang menyentuh angka Rp17.498 per USD, peran buruh menjadi semakin sentral sekaligus rentan. Secara data, sektor industri pengolahan masih menjadi motor utama ekonomi kita dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 18,7%. Artinya, hampir seperlima kekayaan bangsa ini lahir dari keringat jutaan pekerja di pabrik-pabrik. Buruh bukan sekadar angka statistik dalam laporan ketenagakerjaan, melainkan variabel penentu apakah target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,5% bisa tercapai atau hanya menjadi angan-angan di atas kertas.

Sangat disayangkan, sebagai pondasi, buruh justru menjadi pihak yang paling pertama merasakan ketidak adilan. Ketika harga bahan pokok meroket akibat imported inflation, daya beli buruh adalah benteng terakhir stabilitas pasar domestik. Perlu diingat bahwa konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 52% struktur ekonomi Indonesia, jika kesejahteraan buruh terabaikan dan daya beli mereka ambruk, maka seluruh roda ekonomi nasional akan mengalami deselerasi. Menuntut kesejahteraan buruh bukan sekadar aksi solidaritas, melainkan logika ekonomi yang sehat, karena tak ada bangunan yang bisa berdiri tegak jika pondasinya dibiarkan retak terhimpit beban. Sebagai mahasiswa, kita harus sadar bahwa integritas ekonomi bangsa ini sangat bergantung pada seberapa manusiawi kita memperlakukan mereka yang berada di dasar piramida.

 

Narasi ( Unduh )

0 0 vote
Article Rating