Salib itu Berat
By: Yousev Lumbantobing (Akt’23)
Kasih terbesar tidak pernah lahir dari kenyamanan, tetapi dari keberanian untuk berkorban. Dalam momentum Paskah, kita diingatkan bahwa kasih sejati bukan sekadar kata manis atau simbol kosong, melainkan tindakan nyata yang menuntut ketulusan tanpa syarat seperti kasih agape.
Pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib menjadi gambaran paling utuh tentang kasih yang total. la tidak memilih jalan yang mudah, tetapi jalan yang menyelamatkan. Dari sana kita belajar bahwa kasih sejati selalu melibatkan kehilangan, selalu mengandung harga yang harus dibayar.
Namun, makna ini tidak berhenti pada peristiwa salib. la menantang kita untuk berefleksi: sejauh mana kita mengasihi dengan tulus? Apakah kasih kita masih bersyarat, atau sudah berani memberi tanpa menghitung untung dan rugi?
Dalam kehidupan sehari-hari, kasih itu sederhana tapi tidak mudah. la hadir ketika kita mau berbagi waktu di tengah kesibukan, memberi tenaga tanpa pamrih, dan mengalahkan ego demi kebaikan bersama. Kasih bukan soal besar kecilnya tindakan, tetapi ketulusan di baliknya.Ketika kasih itu hidup, ia membentuk kita menjadi pribadi yang lebih peduli, lebih peka, dan lebih manusiawi. Ia membangun empati, meruntuhkan ego, dan menghidupkan relasi yang Lebih sehat dalam komunitas.
Karena pada akhirnya, kasih sejati memang tidak pernah gratis. la selalu menuntut pengorbanan. Dan justru di sanalah, kasih menemukan makna terbesarnya.
Opini ( Unduh )