- Tata Pelaksanaan
Telah terlaksananya Penelaahan Alkitab ke II oleh pengurus komisariat GMKI FEB USU yang dilaksanakan pada Senin, 18 April 2022, dengan tema “Iman, Pengharapan dan Kasih dalam Masa Krisis” yang diambil dari Roma 5:1-5. Kegiatan Penelaahan Alkitab kali ini dibawakan oleh Bapak Pdt Jeriyonanta Sitepu, S.Th,MM yang melayani di GBKP Helvetia dan juga merupakan senior GMKI Cabang Medan dibawah koordinasi Komisariat STT ABDI SABDA Medan. Penelaahan Alkitab berlangsung dari pukul 17.30 WIB hingga pukul 19.20 WIB.Kegiatan ini dilaksanakan dengan metode hybrid yaitu melalui aplikasi zoom meeting dan di Sekretariat Taktis GMKI FEB USU. Penelaahan Alkitab kali ini diikuti sebanyak 41 orang dilihat dari absensi Google Form yang diisi oleh peserta dan disebar saat kegiatan berlangsung. Adapun peserta yang hadir dalam Penelaahan Alkitab ini, terdiri dari pengurus komisariat sendiri, kemudian anggota GMKI FEB USU dan mahasiswa baru FEB USU 2021.
Penelaahan Alkitab diawali dengan salam pembuka oleh moderator, Dewi Tambunan (Wakil Sekretaris bidang Kerohanian), diikuti dengan memimpin doa pembuka dan dilanjut dengan menyanyikan lagu pujian yang berjudul “Terpujilah nama-Mu Tuhan. Selanjutnya, moderator selaku yang memimpin jalannya kegiatan Penelaahan Alkitab ini memberikan kesempatan kepada pembicara Bapak Pdt Jeriyonanta Sitepu, S.Th,MM untuk memaparkan materi Penelaahan Alkitab. Setelah selesai memberikan pemaparan, moderator membuka sesi diskusi tanya jawab dan mempersilahkan peserta untuk memberikan tanggapan. Dalam sesi diskusi terdapat 3 tanggapan, berupa pertanyaan yang disampaikan oleh peserta diskusi. Setelah sesi diskusi tanya jawab , dilakukan pembahasan mengenai studi kasus yang sudah disediakan bersangkutan dengan tema dan dibahas dalam bentuk kelompok terdiri dari 3 kelompok. Setelah studi kasus dibahas per kelompok ,selanjutnya perwakilan kelompok memaparkan hasil diskusi kelompoknya. Setelah semua kelompok memaparkan hasil diskusinya , pembicara meluruskan atau memberi kesimpulan terkait studi kasus yang sudah dibahas. Setelah sesi studi kasus berakhir, moderator kemudian memimpin peserta untuk menyanyikan lagu pujian berjudul, “Sampai Akhir”. Setelah selesai menyanyikan lagu pujian, moderator kemudian mempersilahkan pembicara untuk memberikan closing statement, dan kemudian moderator menutup Penelaahan Alkitab kali ini dengan memberikan kesimpulan dan mempersilahkan pembicara untuk membawakan doa penutup.
- Resume Materi
“Iman, Pengharapan dan Kasih dalam Masa Krisis” (Roma 5:1-5)
Iman pengharapan dan kasih adalah tiga keutamaan kristiani yang dapat dihayati dan di implementasikan sebagai kader-kader yang terus berjuang dalam setiap kondisi kehidupan di tiga medan pelayanannya. Dengan iman pengharapan dan kasih orang percaya dimampukan untuk melihat persoalan dan krisis dengan lebih luas, bahwa rancangan Tuhan adalah rangcangan damai sejahtera, yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan. Kehidupan rohani orang Kristen dibangun di atas dasar iman, pengharapan dan kasih. Iman, harap, dan kasih ini tidak boleh dipisahkan. Semua tahapan harus kita lewati. Iman, harap, dan kasih yang saling berkaitan. Dalam dunia yang tidak menentu, ada waktu di mana jalan kita penuh kelancaran dan ada pula masa-masa penuh kesulitan, penderitaan, dan kesengsaraan. Sebagai orang Kristen yang juga ada di dunia yang demikian, bagaimanakah kita harus berespon terhadap gejolak kehidupan yang tidak menentu ini?Karena jika disadari, ketika kita berada dalam situasi dan kondisi yang baik baik saja seperti segala yang kita butuhkan tersedia, maka akan sangat mudah kita untuk tetap memiliki iman dan berpengharapan. Namun, bagaimana jika kenyataan yang kita terima tidak sesuai dengan harapan kita? Akan sangat sulit untuk tetap memiliki iman, pengharapan dan kasih seperti yg terjadi pada masa saat ini yaitu Pandemi covid 19.Memang hidup sebagai orang kristen tidak pernah lepas dari krisis dan kesulitan . Bahkan seringkali Tuhan kerap memakai krisis dan kesulitan sebagai proses pendewasaan rohani kita.Terlebih lagi saat ini ketika melihat kondisi dunia yang porak-poranda akibat pandemi COVID-19, di antara kita mungkin ada yang bertanya apakah Allah sungguh ada? dan bagaimana sebenarnya untuk tetap memiliki iman pengharapan dan kasih di tengah krisis ini?
Hal utama yang ingin di tekankan oleh nats alkitab Roma 5:1-5 adalah bahwa “Kasih Allah yang besar bagi kita”, bahwa tidak ada yang dapat menyamai kasih Tuhan, karena pada hakikatnya Dia adalah sumber kasih. Melalui Kristus kita dibenarkan, menjadi orang benar, dan dimampukan untuk melakukan yang benar (sudah kita hayati dalam peringatan Pra-Paskah dan Paskah). Kasih Allah yang besar bagi kita mencerahkan agar kita tidak terjebak dalam menjalani setiap situasi hidup dengan mengandalkan pikiran dan kekuatan kita. Tetapi selalu teguh dalam iman, pengharapan dan nyata dalam kasih.
Firman Tuhan dalam Lukas 22:19 Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” Artinya bahwa sakramen bukan sebatas kegiatan ritual ibadah di gereja, tapi mengingat akan Kristus dalam kehidupan nyata, ketika Tuhan memberi diri untuk dipersembahkan, membuka jubahnya untuk membasuh kaki murid-muridnya, totalitas menjalani penderitaanNya, hal ini menguatkan iman kita agar mengingat Kristus Tuhan dalam setiap kehidupan kita. Kader GMKI semakin mampu memberi diri untuk kebaikan organisasi, semakin rendah hati ketika memiliki kemampuan dan kekuatan yang lebih dari yang lain, selalu mampu mengatasi dan peka atas persoalan yang ada dan berjuang dalam kesengsaraan untuk menyatakan kasih dalam hidupnya.
- Pandangan Teologis tentang Iman
Iman (faith), bahasa latin Fidere yang berarti mempercayakan. Iman diekspresikan melalui komitmen seseorang secara total dalam hubungan hubungan yang penuh kepercayaan dengan Allah di dalam Yesus Kristus (lih. Rm. 4:18-25;Gal. 3:6-9). Perwujudan dari komitmen itulah menuntut “ketaatan yang tulus”. Bonhoeffer, dalam The Cost of Discipleship, menegaskan bahwa iman dan ketaatan tidak dapat dipisahkan karena “iman hanya nyata Ketika ada ketaatan, tidak ada iman tanpa ketaatan, dan iman hanya menjadi iman dalam bentuk Tindakan ketaatan”.
- Pandangan Teologis tentang pengharapan
Pembicaraan tentang iman dan kasih sudah begitu sering kita dengar, tetapi pengharapan sedikit kurang karena menyiaratkan ketidakpastian, tetapi bagi orang percaya harapan mengungkapkan kepercayaan akan hal-hal yang paling pasti yang nyata dalam Kristus. Sering kita mendengar bahwa kita bisa kehilangan apa saja di dunia ini, kehilangan orang yang kita kasihi, kehilangan peluang baik, kehilangan nilai akademis karena kesibukan organisasi, dan banyak kehilangan yang kita alami, tetapi satu yang tidak bisa hilang adalah pengharapan akan janji-janji Tuhan dalam kehidupan kita.
Kita mengimani bahwa kemurahan Tuhan tidak pernah akan kering meskipun yang terbaik masih belum tiba. Harapan akan selalu kuat dan bertumbuh ketika kita mempelajari perbuatan-perbuatan Tuhan dalam Firmannya (Roma 12:12; 15:4). Harapan tidak seperti laying-layang yang tergantung kepada angina yang berubah-ubah, iman Kristen yakin bahwa setiap harapannya akan menjadi kenyataan (Ibr. 11:1) dan harapan tidak akan mengecewakan (Roma 5:5). Adanya harapan memacu kita untuk menjadikan hidup kita lebih baik, tidak mudah mengeluh, selalu berjuang, bersukacita dalam pengharapan (pengharapan selalu dihubungkan dengan kesabaran dan keteguhan). tu sebabnya Paulus mengatakan “kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita” (ay.3). Sikap orang beriman menghadapi penderitaan bukan rasa takut, bimbang dan kawatir, namun sebaliknya justru bermegah karena “penderitaan itu adalah bahagian dari persekutuan kita dengan Tuhan.”
ayat 3-5: “Kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan – ketekunan menimbulkan tahan uji – tahan uji menimbulkan pengharapan”. Iman akan memastikan bahwa kita dalam menjalani berbagai pergumulan akan semakin merasakan kebersamaan dengan Tuhan dan kita semakin kuat dan akan tetap berpengharapan atas solusi yang berasal dari Tuhan, dan kita lebih di teguhkan lagi bahwa “pengharapan itu tidak akan mengecewakan”.
- Pandangan Teologis Tentang Kasih
1 Korintus 13:13 Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. Hakekat cinta kasih Allah ialah cinta kasih yang penuh dengan kesetiaan, Allah setia kepada janji-janjinya, karena begitu besar kasih Allah (Yoh. 3:16). Cinta kasih Allah yang setia adalah cinta ksih yang menderita oleh karena ketidak setiaan kita. (Kristus tidak layak menerima hukuman tetapi dia terima kesengsaraan karena KASIHNYA, Kita tidak layak menerima anugerah tetapi kita terima karena KASIHNYA).
Dengan pembahasan mengenai Iman, Pengharapan dan Kasih dalam Masa Krisis diharapkan kader GMKI mampu untuk :
- Senantiasa bertumbuh dalam iman, kesukaannya mendengar dan merenungkan Firman Tuhan
- Senantiasa kuat dalam penderitaan/kesengsaraan, kader-kader GMKI adalah orang-orang yang punya metal pemenang, kuat dalam pengharapan.
- Selalu mewujudnyatakan kasih dalam hidupnya, berjuang menyatakan kasih, bagi orang yang tertindas dan yang membutuhkan seperti yang dinyatakan Kristus.
- Sesulit apapun kondisi saat ini, Tuhan rindu kehadiran GMKI untuk menjadi teladan dalam iman, pengharapan dan kasihnya bagi dunia.