“Bagaimana Kasih yang Benar Menurut Allah”
Tata Laksana
Penelaahan Alkitab III telah terlaksana pada hari Senin, 24 Maret 2025 secara onside di Secretariat Tactis GMKI FEB USU Jl. Rebab No.20. Penelaahan alkitab ini mengangkat tema tentang “ Bagaimana Kasih yang Benar Menurut Allah” yang di bawakan oleh Pdt.Saputra Manik M.Th. Penelaahan Alkitab III berlangsung mulai pukul 17.00 (mengalami keterlambatan selama 30 menit) dan di hadiri oleh 33 anggota. Kegiatan ini di buka dengan doa oleh Cristyn. Kemudian di lanjutkan dengan kata pembukaan oleh Moderator yaitu Revalina Situmorang (Biro Kerohanian) dan di lanjutkan dengan pemaparan materi, kemudian diskusi tanya jawab dan yang terakhir di lanjutkan dengan doa penutup yang di bawakan oleh Cristyn. Kemudian pada akhir kegiatan di lakukan pengisian quesioner yang di bagikan oleh pengurus komisariat dan melakukan dokumentasi kegiatan.
Resume Materi
- Pengantar
Pengangkatan Tema ini sendiri di dasarkan pada tema Penelaahan Alkitab II yang berbicara tentang Kristen Progresif . Di dalam tema itu sendiri membahas beberapa unsur terutama tentang kasih dari perspektif Kristen Progresif yang terbilang Kontroversial dan tidak sesuai dengan ajaran kekristenan pada umumnya. Melihat fenomena tersebut, lantas bagaimana kasih yang seharusnya menurut Allah?
KRISTEN PROGRESIF (PA II SEBELUMNYA):
- Yesus tidak satu-satunya jalan. Allah Maha Baik, jadi tidak mungkin membiarkan manusia masuk ke neraka
- Ajaran fundamental yang berubah mengikuti perkembangan zaman. Sehingga Alkitab tidak lagi relevan menjadi tonggak standar mutlak menyatakan keselamatan
- Standar yang berlebihan, termasuk kasih
Kasih adalah salah satu elemen terpenting dalam kehidupan manusia. Demi mendapatkan kasih, orang rela melakukan apapun. Untuk mengungkapkan kasih, orang rela membayar harga setinggi apapun. Bukan tanpa alasan apabila kisah tentang kasih seorang ayah yang harus mempertaruhkan nyawa demi anaknya, seorang laki-laki yang mati demi kekasihnya.
Kasih memang sangat penting, kita tidak sepatutnya memberhalakan kasih. Ada berapa banyak orang yang mengatasnamakan kasih atau cinta lantas melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Demi mendapatkan cinta, sebagian orang rela meninggalkan Allah dan kebenaran-Nya.
- Karakteristik Kasih Allah
- Hakikat
Ini berbicara tentang sesuatu yang begitu melekat dalam esensi ilahi. Sama seperti panas tidak mungkin terpisahkan dari matahari, demikian pula kasih tak terceraikan dari Allah. Sama seperti esensi dari sebuah es adalah dingin, demikian pula dengan esensi ilahi adalah kasih.
Konsep ini terbilang cukup unik. Beberapa agama atau aliran kepercayaan mengajarkan keberadaan ilahi yang tidak bepribadi (impersonal). Allah hanya dipahami sebagai sebuah sumber keberadaan atau sebuah pemikiran universal. Dengan mengatakan “Allah adalah kasih,” Yohanes sedang menegaskan keberadaan Allah yang berpribadi (personal). Tanpa kepribadian tidak mungkin ada kasih, karena sesuatu yang tidak berpribadi tidak memiliki kapasitas untuk mengasihi maupun menghargai kasih.
- Bukti
Kasih yang sejak kekekalan sudah ada dalam diri Allah Tritunggal telah ditunjukkan melalui sebuah peristiwa sejarah. Kasih itu sudah terbukti secara nyata. Penambahan kata “di tengah-tengah kita” (en hēmin) mempertegas historisitas pembuktian tersebut. Kedatangan Kristus ke dalam dunia bukan sebuah dongeng yang tak bisa ditelusuri kebenarannya.
- Inisiatif
Inisiatif ini merupakan salah satu karakteristik doktrin Kristiani. Secara konsisten Alkitab selalu meletakkan Allah sebagai inisiator kasih dan kebaikan. Bukan kita yang memilih Allah, tetapi Ia yang lebih dahulu memilih kita (Yoh 15:16). Bukan kita yang mencari Allah, melainkan Allah yang datang untuk mencari dan menyelamatkan kita (Luk 19:10).
Kesimpulan
Kasih yang benar menurut Allah adalah kasih yang berasal dari hati yang tulus dan mencerminkan karakter Allah sendiri. Dalam Alkitab, kasih bukan hanya sekadar perasaan, tapi tindakan nyata yang mencerminkan hubungan kita dengan Allah dan sesama. Kasih yang benar menurut Allah adalah kasih yang murni, tidak egois, dan diwujudkan melalui tindakan nyata yang didasarkan pada pengenalan akan Allah sendiri. Kasih ini mencerminkan karakter Allah—penuh pengampunan, tidak membeda-bedakan, dan rela berkorban. Kasih sejati bukan hanya tentang perasaan, tetapi merupakan buah dari kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus. Karena itu, sebagai anak-anak Allah, kita dipanggil untuk mengasihi seperti Kristus telah lebih dulu mengasihi kita.